Kisah Perempuanku

Oleh Imam Muhtarom


Sesungguhnya aku tidak mau menulis cerita yang akan kupaparkan berikut ini. Bukannya aku tidak suka atau karena dianggap cengeng sebagai seorang penulis. Aku menuliskannya karena persoalan itu terus-menerus menderaku seperti hujan diantara badai yang membuat daun pepohonan terombang-ambing.
Mulanya aku tidak mengira perjumpaan di acara diskusi yang kuadakan justru menuai apa yang selama ini aku hindari. Aku tidak mau berurusan dengan perempuan. Perempuan bagiku barang abstrak seperti air yang dipanaskan dan akan menguap menjadi mendung dan muncul hujan kemudian banjir. Sebuah banjir yang akan meluap dan meratakan sebuah pemukiman…. Tunggu aku belum bercerita. Ini mungkin bagian kesulitanku untuk menceritakan apa yang  aku percaya bahwa aku tidak akan pernah sekalipun bersentuhan dengan persoalan ini. Persoalan, ya aku menyebutnya sebagai sebuah persoalan. Bukan sebuah keberkatan seperti kata temanku. Keberkatan, menurut temanku. Aku bingung di mana letak keberkatan itu karena aku tidak dapat menbedakan keberkatan dan bukan keberkatan. Temanku mengatakan itu karena perempuan yang menjadi persoalan itu cantik, kaya, dan walaupun aku tidak bisa menerima alasan itu, temanku tetap mengatakan bahwa semua itu keberkatan. Aku tidak mendiskusikannya dengan temanku karena temanku mengatakan itu adalah urusan pribadiku dan ia, katanya, “Just comment”.
Di sinilah rumitnya persoalan yang berkenaan dengan perempuan muncul. Persoalan perempuan seolah telah menjadi hal yang kasusitik sekali sehingga secara sosial ia tidak bisa diterima dan semuanya dikembalikan pada pilihan-pilihan pribadi. Tema perempuan berbeda dengan politik, ekonomi dan… ah pasca-strukturalis.  Ah tidak. Ini bukan waktunya membandingkan antara yang publik dan yang privat. Baiklah aku lanjutkan ceritaku….
Ia datang dengan keceriaannya pagi itu. Menenteng sebuah tustel. Ia mengatakan tustel itu dipinjam dari temen dan harus membeli. Ia mengatakan dengan nada keluhan kenapa acaranya pada pukul 8 pagi, kok datangnya pukul delapan pagi. Jumlah peserta telah penuh dan pembicara pun sudah datang. Aku tidak terlalu perhatian dan hanya menjawab  pendek: “Foto kopi untuk memperbanyak naskah antri, sehingga memakan waktu lama.” Ia tidak bertanya selanjutnya dan hanya meninggalkan senyum. Aku pun menganggapnya biasa.
Mungkin sikapku ini memang sudah pembawaan dan aku tidak pernah berprasangka apapun terhadap peristiwa-peristiwa demikian. Walaupun aku tidak banyak berjumpa perempuan kecuali pertemuan-pertemuan yang sifatnya formal dan berbau administratik, aku tidak canggung sebab pertemuan dengan perempuan bagiku serupa pertemuan dengan laki-laki. Biasa dan hanya hal-hal yang sifatnya perlu saja yang kubicarakan.
Diskusi itu berjalan kurang lebih sebulan dengan frekuensi sekali seminggu pertemuan. Jadi semakin membuat aku tidak berkesan apapun kecuali pertemua-pertemuan formal. Memang pada akhirnya ada pembicaraan yang panjang yang membuatku tidak nyaman. Diskusi diadakan pas pukul 8 tetapi si pembicara tidak datang sampai pukul 10. Aku telah siap dengan  makalah, pengeras suara, lampu sligth.  Dalam dua jam menunggu itu aku akhirnya bicara panjang lebar mengenai berbagai hal terutama tentang materi diskusi dan kemudian merembet ke masalah kesenian, terutama masalah teater karena ternyata perempuan itu ketua teater kampus. Aku tidak menimbang apakah dia serius dengan teater itu atau tidak yang akhirnya kuketahui beberapa waktu kemudian sesungguhnya dia tidak berminat pada teater. Aku bicara Brecht, bicara lakon naskah Kaspar yang begitu menggetarkanku, dan persoalan-persaoalan mengenai strategi pengembangan wacana perteateran. Misalkan studi banding.. bla..bla..bla…
Aku tidak tahu kemudian ia berusaha mencariku setelah acara diskusi berakhir dan sering memberi salam. Aku tidak terlalu banyak berpikir sampai kemudian perempuan itu ingin berbicara melalui temanku. Pada saat itu aku mendapat isyarat yang aneh dan aku menduga ada persoalan seorang perempuan tengah menyenangi laki-laki. Aku gundah. Aku tidak siap. Sesungguhnya aku dapat cuek dan membiarkan perempuan yang masih semester 4 itu menitip salam dan kadang menelponku untuk melihat sebuah acara teater atau pertunjukkan musik walaupun tidak langsung. Aku tolak semua itu dengan cara kuusahakan tidak menyinggung perasaannya. Aku tidak mau urusan semacam ini membesar dan menimbulkan persoalan di lingkungan pergaulan. Oh ya saat itu si perempuan tersebut sering bertandang ke tempat aku dan teman-temanku berkumpul dan membicarakan banyak hal. Mulai dari kesenian, politik, dan anekdot-anekdot yang tidak tentu arah. Memang aku mulai terganggu, terlebih ketika ia, karena aku memang dengan sengaja berbicara serius dengan temanku untuk tidak berkomunikasi dengan perempuan itu. Namun aku tidak tega ketika mendadak mata perempuan itu memerah. Ah akhirnya aku terjebak. Aku harus berupaya membuatnya tidak menangis atau hal-hal yang tidak diinginkan lainnya. Akhirnya aku bicara dan entah aku tidak tahu apa yang kubicarakan. Mungkin yang kubicarakan saat itu adalah dari mana dan sedang kuliah apa. Satu-satunya  pembicaraan yang agak panjang adalah membicarakan seorang dosen yang mengajarnya. Aku sesungguhnya tidak ingin membicarakan orang lain, tetapi apa boleh buat ternyata hanya itu yang membuatnya nyambung.
Aku memang tidak tega menyakiti siapapun. Biasanya aku akan menghindari seseorang jika ada persoalan yang cukup rumit untuk diseleseikan. Bisanya menyangkut perwatakan sehingga persoalan menjadi rumit. Biasanya persoalan rumit tersebut bukan pada persoalan itu tidak dapat diseleseikan tetapi menyangkut karakter orang tersebut sehingga persoalan bukan menuju ke arah pemecahan tetapi berhenti pada watak. Karena memang itu kebiasaanku maka aku  seperti menghadapi tembok ketika aku harus memutuskan untuk tidak ada hubungan yang sifatnya lelaki dan perempuan di satu sisi dan untuk tidak membuat sakit hati pada sisi lain dengan perempuan itu.
Tapi memang aku tidak mempunyai cara khusus agar hubunganku dengan perempuan itu tidak kacau. Kebiasaanku yang formalistik dengan perempuan ternyata runtuh juga. Aku kelimpungan seperti kadal kepanasan. Aku suka terbayang menjelang tidur kala tidak ada yang dipikirkan. Gambaran itu seolah muncul dengan sendirinya dan aku diliputi rasa senang yang sebelumnya sama sekali tidak pernah kurasakan. Aku selalu menganggap perasaan semacam ini tidak logis dan akan mempersulit kesukaanku menulis, membaca buku, dan mengamati berbagai persoalan yang berkait dengan masyarakat. Dan memang ketika rasa senang dengan bayangan-bayangan itu aku selalu diterpa keinginan yang kuat untuk bertemu dengan perempuan itu. Aku kadang-kadang berhitung ala pedagang ketika keinginan untuk bertemu itu semakin kuat.
Begini perhitunganku. Jika aku bertemu dengan perempuan itu aku tidak mendapat pembicaraan yang menarik kecuali persoalan keluarga, dirinya, dan hubungannya dengan kawan prianya beserta riwayat jalinan hubungannya dengan kawan-kawan prianya. Tentang riwayat bapaknya, ibunya, dan adik-adiknya. Kegemarannya waktu SMU. Kebiasaannya di waktu malam hari yang tidak bisa tidur hingga ia harus terjaga sepanjang malam. Ketidaksukaanya pada teman-teman seumuran dia. Pertanyaan-pertanyaannya mengenai bahwa aku menurut dia yang didapat entah dari mana belum pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuanpun.
Ah bukankah semua ini tidak aku butuhkan. Aku tidak butuh pembicaraan mengenai persoalan pribadi dan seingatku aku tidak pernah berbicara persoalan pribadi dengan siapapun. Aku tidak suka pembicaraan semacam ini karena selain tidak berguna juga menyita waktu. Bukankah lebih baik digunakan membaca buku atau main game! Tetapi memang  persoalan keinginan bertemu berbeda dengan berdagang. Semakin aku berhitung tentang guna semakin aku teringat matanya bagai mata seorang bayi yang begitu murni dan tidak ada kepentingan  di dalam tatapannya. Seolah mata itu memenuhi kepalaku dan semua bacaanku, tulisanku, teman-temanku, memuai. Tinggal mata itu! Mata! Ah betapa konyolnya aku. Hanya sebuah mata namun mampu membuatku tidak bisa berpikir apa-apa. Apakah ini hubungan tulus dari perempuan dan laki-laki? Apakah ini adalah tumbuhnya bibit cinta? Jawabku: aku tidak bisa menjawab. Aku tampak menjadi sedemikian bodoh. Semua berita politik, budaya, sosial, hilang dengan mata bagai bayi itu.  Aku.. aku kalah.
Akhirnya aku jarang ke tempat dimana aku biasa berkumpul dengan temanku. Aku menyendiri di rumah meskipun tidak kerasan. Aku memaksa membaca apapun meskipun tidak masuk ke otakku. Pun jika aku terpaksa harus ke teman-temanku dan kebetulan perempuan tersebut ada di situ aku mundur. Buru-buru pergi dan mengatakan pada teman-temanku ada janji atau pekerjaan yang harus kuseleseikan. Otakku menjadi seperti hutan rimba yang tidak bisa kutelusuri sendiri. Biasanya aku membayangkan apapun yang sekiranya dapat menghilangkan mata bagai bayi itu. Bayangan perempuan yang lebih cantik, nenek moyangku yang menurunkan aku, tapi…  mata… mata bayi itu!
Bagaimana tidak mata bayi itu menyikasaku karena meskipun aku mengatakan bahwa hubunganku dengan perempuan itu sebaiknya hanya teman biasa saja ia mengatakan sulit melakukannya, walaupun aku berkata dengan tegas “lupakan semua itu dan curahkan perhatianmu pada kuliah!” Aku semakin kelimpungan. Aku semakin terjerat dalam bingkai yang tidak aku buat sendiri. Semua akal sehatku seperti luluh.
Akhirnya aku memutuskan bahwa aku sebenarnya menyukai dia tetapi aku tidak tahu bagaimana mengatur perasaan semacam itu. Pada suatu pagi setelah hari sebelumnya aku berpapasan dengan perempuan itu secara tak sengaja dan mata itu seperti sembab. Aku tidak tega. Aku telah menyakiti perempuan ini! Pagi itu aku mengatakan aku memang tidak konsisten dan memang menyukai dia setelah terlebih dahulu meminta maaf. Namun aku mau serius jika ia telah lulus. Pun jika ia tertarik dengan lelaki lain, aku dengan tulus mempersilahkan memilihnya.
“Pilihlah berlian kesukaanmu” kataku.
Dua hari kemudian aku pergi ke kota lain dan berusaha tidak kembali.
(Cerita buat Asna)
Jakarta, 2004



Tabloid Nova
Bookmark and Share

2 comments:

  1. Aku bisa memakai semua perhiasan di dunia, tetapi aku tak akan memilih berlian manapun... karena aku jatuh cinta berkali-kali pada bayangan yang sama...

    ReplyDelete

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate