Cerpen, Ruang, dan Kota

oleh Imam Muhtarom


Penyikapan terhadap kota dalam penulisan cerpen dapat menjadi cara untuk menciptakan cerpen yang sungguh-sungguh baru, baik dalam pengertian pandangan itu sendiri maupun bagaimana pandangan tersebut menemukan penjabarannya melalui cerita. Penyikapan ini bukan sekadar keberanian atas pandangan-pandangan yang sudah lazim terhadap kota, tetapi juga mampu menunjukkan bahwa pandangan yang baru tersebut memiliki argumentasi yang cukup memadai.
Dalam penulisan cerpen, kota jamak disikapi secara negatif lantaran kota membentuk kehidupan menjadi demikian mekanistis. Individu dipangkas dari sifat ”alamiahnya” untuk saling menolong dan membantu. Hubungan antarpenghuni kota tak beda dengan transaksi yang ada dalam dunia dagang. Bagi mereka yang tidak siap dengan cara-cara sistem kota bekerja, akan terlempar di jalan-jalan dan membusuk di sudut-sudut kota yang gelap. Berkomplot dengan orang-orang putus asa, kalap, dan nekat.
Pandangan negatif kota semacam ini cukup kental pada cerpen-cerpen Pramoedya Ananta Toer dalam Cerita dari Jakarta, sebagian cerpen-cerpen Ahmad Tohari, Iwan Simatupang, dan Joni Ariadianata. Cerpen karya pengarang-pengarang ini dapat dikatakan normatif dalam pengertian kota dipandang secara negatif. Kota bukan tempat ideal untuk hidup sebab kota tak lain neraka kehidupan.
Dalam cerpen-cerpen tersebut kota selalu ditunjukkan sisi negatif dan tidak ada peluang lain menjadikan kota sebagai tempat menaruh harapan. Cerpen-cerpen tersebut seakan menyarankan, di luar kotalah harapan itu ada. Cerpen ”Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu” karya Iwan Simatupang yang berlatar fisik pojok jalan tak lain ruang di mana dua tokoh mengalami peristiwa yang mengubah hidup keduanya, hanya disinggung sepintas. Pojok jalan dalam cerpen ini diletakkan tak ubahnya saksi abadi dari suatu peristiwa luar biasa yang dialami dua tokoh lantaran pojok jalan itu adalah tempat berpisah, bertemu lagi, lalu berpisah lagi setelah 10 tahun mereka tak berjumpa. Keterpisahan mereka berawal ketika si suami meminta si istri menunggu di pojok jalan, sementara si suami hendak membeli rokok. Semenjak itu si suami tidak kembali dan baru 10 tahun kemudian si suami menemui si istri di pojok jalan itu. Sialnya, si istri telah menjadi pelacur dan ketika hendak bercinta si istri minta bayaran. Paginya, si suami bertekad meninggalkan kota itu dan tidak akan kembali lagi.
Cerita ini memusat pada peristiwa si suami-istri, sementara ruang di mana mereka terlibat dalam peristiwa tersebut diabaikan. Pojok jalan tempat cerita itu terjadi tak lain sampiran yang hanya perlu disinggung sepintas setelah itu patut dilupakan. Tampaknya cerpen ini, juga cerpen-cerpen dari pengarang yang disebutkan dalam tulisan ini, lebih percaya aspek waktu sebagai rentang hidup tokohnya daripada ruang konkret di mana tokoh sesungguhnya dibekukan. Apa yang terlupa dari keyakinan ini adalah bahwa ruang lebih konkret daripada waktu dalam hidup manusia, terlebih ruang tersebut berada dalam suatu kota. Ruang dalam kota memiliki dampak yang konkret dibandingkan waktu. Tak ada peristiwa yang bertahan dalam ingatan seorang penghuni kota. Sekalipun ada, ingatan itu telah boyak ditimpa keriuhan kota tiada henti.
Maka, ruang menjadi sangat penting setelah waktu bukan lagi milik pribadi. Ruang menjadi fundamental bagi penghuni kota sebab ruanglah yang memungkinkan perjumpaan sosial terjadi. Namun, ruang lagi-lagi bukan sesuatu yang netral dan tidak setiap orang dapat mengaksesnya. Ruang dalam kota sangat berkait bagaimana modal mewujudkan dirinya dalam sekian jalan, gedung perkantoran, mal, apartemen, terminal, perumahan, busway, jalur kereta api. Sekian infrastruktur kota ini secara jelas akan membentuk sejenis klasifikasi sosial dimulai dari posisi badan dalam berjalan, duduk, dan berbicara sampai dengan siapa dapat mengakses apa, siapa bertemu siapa dan membicarakan apa.
Akhirnya, ruang di kota menentukan orientasi sosial penghuninya. Semakin lama posisi ruang di kota nyaris tak bisa dibedakan dengan norma-norma sosial bagi penghuninya. Posisi ruang yang menentukan posisi relasi sosial seseorang ini akan berakibat pada perjumpaan sosial. Anthony Giddens dengan cara yang cukup meyakinkan menuliskan bahwa perjumpaan sosial sangat menentukan kadar hubungan antarindividu (The Constitution of Society, 1995).
Sesungguhnya tak harus butuh waktu 10 tahun untuk memutus hubungan suami-istri sebagaimana dalam cerpen Iwan Simatupang. Inilah yang tak terantisipasi oleh tokoh suami dalam cerpen ”Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu”.
Ruang konkret
Cerpen ”Menanam Karen di Tengah Hujan” karya Afrizal Malna adalah contoh bagaimana kota tidak harus dilihat secara negatif. Afrizal dalam cerpen ini menunjukkan pandangannya yang segar. Pandangan konvensional atas ruang dan waktu yang beku ditolak dan disodorkan ruang dan waktu yang mozaik. Cerita tidak memfokus ke suatu hal, tetapi memecah ke banyak hal. Indeks-indeks yang biasa menghiasi media massa tiba-tiba saja masuk dan memberi arti tak lazim dalam sebuah cerpen macam AIDS, HIV, supermarket, LSM, globalisasi, VOC, Marsinah, Edy Tanzil, pemberontak IRA, deodorant, Tuhan. Cara seperti ini, justru memberi kemungkinan dari cara bercerita yang mengharuskan adanya awal-konflik-penutup dengan kejelasan dalam hal ruang dan waktu.
Ruang yang mengindikasikan ketertiban dan waktu yang mengisyaratkan keteraturan dijungkirkan dalam adegan ketika tokoh aku berada di supermarket. Tokoh aku melawan perilaku seragam pengunjung supermarket. Ia tidak membayar setiap barang yang diambilnya seperti tokoh Karen ”menyusuri rak-rak makanan kering. Ia berjalan sambil makan sosis, ikan mentah, dan kaleng minuman dingin di tangannya…. Ia melempar kaleng minuman yang telah kosong itu ke arah kasir, melayang menyentuh jidatnya. Kasir cantik dalam seragam biru garis-garis itu, seketika mati. Mayatnya diganti kasir lain”.
Tokoh Karen ini tampak ingin memarodikan ketertiban dalam supermarket sekalipun tak ada keharusan orang untuk tertib di dalamnya, kecuali harus membeli demi menguntungkan si kapitalis. Tetapi, parodi secara gagasan maupun secara penulisan ini justru menghadirkan keadaan anarki yang tak terbayangkan. Norma-norma sosial menjadi tidak penting lagi sebab norma itu telah diganti oleh norma bentukan kapital. Tokoh aku dan Karen seolah mendapat pembenaran bukan di tingkat sosial saja, tetapi juga di tingkat penulisan cerpen itu sendiri. Cerpen ini menyarankan kepada pembacanya untuk mengalami peristiwa dalam teks tidak hanya pada level kognitif, tetapi juga dengan level afektif. ”Di teras supermarket aku ambil tong asbak rokok, lalu aku lempar ke dalam ruang supermarket. Suara berkelontongan dari tong yang menggelinding itu, merangsang pikiranku untuk mengerti dunia yang lain. Dunia yang tidak pernah ditawarkan oleh kebaikan dan kebenaran”.
Lemparan kaleng kosong dalam ruang supermarket ini menimbulkan imaji tak biasa dari sebuah cerita yang ditulis. Ruang dialami secara lebih konkret bagi tokoh aku sekaligus bagi pembaca sebagaimana dalam pentas teater. Mengalami ruang dalam teks cerita tidak harus melalui pendeskripsian yang mendetail yang justru bisa menimbulkan masalah jarak antara aspek tokoh dan latar. Dalam adegan pelemparan tong asbak rokok serta-merta terbangun semacam kesadaran lain yang hasilnya akan berbeda jika cara mencerap ruang dengan cara pendeskripsian fisik secara detail. Kesadaran akan ruang dalam cerpen ini terbangun melalui cara auditif, bukan kognitif. Ini mendorong orang untuk berpikir bahwa ruang sekalipun ada sesungguhnya ia adalah imajinatif. Ruang bukan sesuatu yang matematis dan eksak bagi penghuni kota, tetapi ruang bersifat konstruktif dari manusia itu sendiri. Persoalannya, tidak semua orang kota mampu dan berani membuat inisiatif seperti yang dilakukan tokoh Karen dan tokoh ketika ruang kotanya secara pasti dibekukan oleh kapitalisme.


Imam Muhtarom, Penulis Cerpen




KOMPAS - Minggu, 3 Februari 2008

3 comments:

  1. Halo Pak, saya hanya ingin menanyakan beberapa hal kepada Anda..
    bagaimana Anda mengejar waktu ketika menyunting sebuah naskah?
    apa saja tahap paling sulit dalam menyunting yang sering Anda hadapi?
    Bagaimana Anda mencapai "zero error"?
    terima kasih sebelumnya.
    Saya sangat berharap Anda dapat merespon pertanyaan ini.
    :)

    ReplyDelete
  2. Halo Tzu.
    Pertama-tama ketertarikan kita pada sebuah naskah adalah sesuatu yang penting. Dengan ketertarikan itu kita dapat menimbang dari sisi pengetahuan kita, kemampuan, dan tahu apa tantangan naskah tersebut. Tahu tantangan berarti juga tahu standar mutu yang mesti dicapai maupun waktu yan disediakan. Kira-kira itu intinya.

    Salam,

    ReplyDelete

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate