Surrealisme Puisi


  oleh Imam Muhtarom

Konsep selalu menjadi bagian penting dari membaca maupun menulis teks. Ini cara yang mendasar dan nyaris selalu mutlak dalam kaitannya dengan penciptaan teks. Ketiadaan konsep bisa ditunjukkan pada kegagalan konstruksi teks. Kegagalan ini bisa dikatakan karena teks tersebut tidak beranjak dari konsep tertentu atau tidak mengindahkan tradisi sastra yang ada. Dan dalam puisi masalah mengindahkan atau tidak mengindahkan tradisi yang ada adalah masalah krusial. Puisi yang hadir pada suatu periode dalam tradisi puisi tertentu dikatakan gagal oleh sebab ia tidak memiliki daya tawar atau ia benar-benar gagal secara tekstual. Pada yang pertama kegagalan ini teks puisi tersebut klise, sementara yang kedua puisi tersebut gagal secara tekstual.
Model penilaian ini rupanya telah menjadi standar penilaian terhadap perkembangan puisi dalam kesusastraan (di) Indonesia. “Kebaruan” selalu menjadi bayang-bayang yang selalu menghantui eksistensi teks puisi tersebut. Sinyalemen penilaian semacam ini barangkali telah menjadi klasik atas teks puisi bukan hanya di dalam kesusastraan di Indonesia, tetapi telah jauh mengakar dalam kesusastraan Eropa.
Persoalan bagaimana teks-teks puisi yang dianggap memiliki kekuatan pembaruan atau tidak dalam kesusastraan tertentu selalu mengalami perdebatan dan juga tidak jauh kaitannya ditentukan oleh hal-hal di luar puisi memang jamak terjadi. Namun, “kebaruan” sudah menjadi kata kunci sebagai cara untuk menentukan apakah sebuah puisi layak mendapat apresiasi yang memadai atau tidak.
Dengan latar tersebut, penulis ingin memaparkan posisi teks puisi-puisi karya W. Haryanto yang mendapat penilaian “gelap”. Teks puisi W memang berada jalur lain dari kecenderungan teks-teks puisi dalam sastra Indonesia, baik saat ini maupun sebelumnya. Arus besar teks puisi lebih menerima teks-teks yang “terang” dalam kaitannya dengan sesuatu di luar dirinya baik secara objek maupun nalar. Secara objek, ini bisa ditunjukkan dengan teks-teks yang mengangkat peristiwa keseharian maupun mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Teks-teks tersebut bisa mengambil sikap ironi atau parodi, namun pada prinsipnya teks itu sendiri membutuhkan sesuatu di luar dirinya untuk memenuhi aspek komunikatif.
Objek Tak Lazim
Sementara kaitan dengan nalar, teks-teks tersebut mengambil penalaran yang terbangun secara sosial dalam hal memandang peristiwa dan benda-benda. Dengan mengambil penalaran semacam ini, puisi tetap bisa melibatkan dirinya dalam kerja komunikasi sekalipun objeknya tidak lazim.
Dalam kasus teks-teks puisi karya W. Haryanto mengambil jalan lain yang tidak lazim baik dari sisi objek maupun penalaran. Secara objek, teks-teksnya bisa mengambil apa saja dan dari mana saja. Teks mengambil kutang, nama tempat, nama seorang penyanyi populer, nabi, dalam satu teks puisi. Diaduk sedemikian rupa sehingga jika menggunakan pembacaan bahwa teks puisi dengan objeknya memiliki aspek referensial sebagaimana lazim dalam perpuisian Indonesia, maka pembaca akan tersesat. Atau, ini yang sering kali terjadi dalam puisi W. Haryanto tidak mengambil objek yang bisa menjadi petanda kecuali nama sebuah tempat sebagai judul dan tempat penulisannya, serta kapan ditulis.
Secara nalar, sama sekali tidak memakai nalar yang bisa dilacak cara-cara berpikir dari mitos, mite, legenda masyarakatnya, maupun cara berpikir kekinian masyarakatnya. Teksnya benar-benar mengambil jalan yang sama sekali lain dengan kecenderungan besar nalar dalam perpuisian Indonesia, dengan memancangkan spirit surrealis. Spirit surrealis ini, pertama-tama mendasarkan asumsinya bahwa semua pandangan tentang metafisis ditolak dan ranah psike manusia adalah satu-satunya realitas yang dimiliki manusia. Dalam sejarahnya, Surealisme merupakan jalan lain yang diambil Andre Breton setelah periode kemunculan buku The Origin of Species karya Charles Darwin pada 1859. Sebagaimana dikatakan Anna Balakian (1970, cet. 2) rentang waktu munculnya pemikiran Darwin di Inggris dan surealisme di Prancis sendiri memang jauh, tetapi ini menjadi latar belakang kemunculan berbagai gagasan anthromorfis, tak terkecuali surealisme.
Persoalannya, teks-teks surrealis sendiri selalu memiliki watak yang berbeda dengan para penyair surealis Prancis, Lautr_mont. Sebagaimana diutarakan Balakian sendiri tentang perkembangan puisi-puisi pernyair Amerika Serikat yang dipengaruhi surealisme, tidak beranjak dari akibat-akibat yang sangat buruk Perang Dunia I sebagaimana dilakukan penyair surealisme Prancis tetapi beranjak resiko yang buruk dari mesin yang menguasai hidup keseharian manusia Amerika, perang Vietnam, dan perang Korea.
Sebagaimana kasus teks puisi karya W., spirit surrealismenya terlihat dengan jelas dengan melacak waktu penciptaannya dalam rentang 1994-2002. Selama masa itu, semua tahu, ketika rezim Soeharto mempraktikkan gaya pemerintahan otoriter sehingga kata “politik” dan “kebebasan” tak ubahnya hantu bagi rakyat. Rezim itu menciptakan bentuk tekanan total atas psike individu mulai dari tekanan fisik hingga tekanan psikis. Sementara itu, setelah “reformasi” bergulir mulai 1998 rezim itu rontok dan kata “politik” dan “kebebasan” diartikan secara liar dan brutal oleh rakyat. Negara tidak berwibawa di mata rakyat dan negara dikendalikan secara liar oleh partai politik.
Rentang waktu delapan tahun yang penuh gejolak, perubahan yang drastis, telah menciptakan kekacauan-keacauan. Paling tidak hal yang mendasar dalam kaitannya dengan kenyataan adalah bahwa kenyataan itu tidak stabil, bergolak, tak terkendali. Kesadaran ini menjadi sangat istimewa bagi mereka yang secara intens mendukung ataupun menolak rezim Soeharto.
Dalam kasus teks puisi W. Haryanto yang istimewa teks-teksnya semakin menuju tingkat “kepercayaan diri” yang lebih untuk mengambil jalan surealisme. Jika pandangan S. Freud mengenai ketidaksadaran menggunakan tesis bahwa yang tampak dalam, misal, salah eja sebuah kata adalah ibarat puncak gunung es ketidaksadaran manusia, maka otoritarianisme Soeharto hingga barbarisme “reformasi’ dalam kaitannya dengan teks puisi W adalah ketidaksadaran itu tidak lagi tersembunyi dalam psike manusia tetapi kesehari-harian manusia itu sendiri adalah ketidaksadaran.
Tak ada daun-daun yang aku kenal,/sendiri, kuhikmati keteduhan musim/yang terjerat gerak angin-/menjadi taufan di taufan di telapak tangan//bumi tercipta dari dunia rimba,/tapi tak ada bahasa yang kumengerti,/selain puisi/yang bertebaran/dari tubuhku./ Puisi “Imperialisme Kota Beku” (dalam Labirin dari Mata Mayat, 2002) yang ditulis 1994 ini merupakan puisi yang ditulis W. pada periode awal.
Sebuah teks puisi yang masih liris, strukturnya jelas, aku-lirik-nya sadar. Mungkin ini periode puisi simbolis W. meskipun sudah menampakkan potensinya untuk masuk ke dalam surealisme. Puisi simbolis sebagaimana puisi-puisi karya Baudelaire, dunia berada dalam posisi nyaris mutlak dibawah kontrol. Ini bisa dibaca simbol-simbol dipakai untuk menggambarkan dunia dan karena itu berada dalam posisi terkontrol, tidak berlepasan. Tetapi teks di atas menyiratkan kekaburan oleh sebab bahasa puisi seperti apa yang bisa dipahaminya? Bahasa puisi tersebut tampaknya mendapatkan kekonkretannya pada puisi “Di Stasiun Talun” dari antologi bersama tiga penyair surrealis lain, Indra Tjahyadi, Mashuri, Muhammad Aris, Manifesto Surealisme (2002). //Imajinasiku,/hanya melihat dan menghirup/semua bau,/ketika hujan terjadi di luar/kesadaranku;/mungkin mataku telah mati rasa,/di bumi bapak—//
Dalam puisi ini jelas bagaimana imajinasi dihidupkan melebihi hidup aku-lirik. Imajinasi menjadi sosok yang dapat melihat dan menghirup bau (!) saat waktu hujan yang lepas dari kendali aku-lirik. Begitu mata yang mengantarkan manusia ke dunia normal telah mengalami kegagalan. Dalam ketiadaan pilihan, keputusaan yang mendapat tanda garis (—), aku-lirik seperti orang-orang negro menemukan irama jazz dalam kapal laut di samudra luas menuju tanah Amerika yang menyedihkan dengan kaki dirantai, di dek bawah yang gelap dan pengap, tanpa makanan, tanpa harapan, /kunyanyikan semua kebenaran,/kubangkitkan sejarah yang pahit,/puisiku bicara dan mengangkat sabit!/
Membaca puisi-puisi W. adalah menyejajarkan sesuatu yang mustahil disejajarkan seperti air matahari yang menguap dari kendi atauwaktu membekas, jadi serdadu, mengacaukan fungsi-fungsi inderawi seperti pikiranku melihat hantu, melihat tubuhku susut, melihat tangis yang kuabaikan. Memang sangat sulit bagi mereka yang terbiasa dengan lirisisme dalam puisi Indonesia. Puisi-puisi Afrizal Malna yang dikatakan keluar dari jalur lirisisme dengan mengambil jalan yang telah dibangun oleh Sutardji Calzoum Bachri, tentu tidak sesulit puisi-puisi W. dalam melakukan interpretasi. Memang puisi-puisi Kriapur seperti “Aku Ingin Hidup di Dasar Kali” dapat digunakan untuk menyamakan model puisi-puisi awal dan tidak untuk puisi-puisi lanjut W. Puisi-puisi lanjut W pada prinsipnya lupakan hukum referensial dan hukum nalar yang selama ini dipercaya!
Dalam puisi “Musium Tropika” pembaca diberi kunci untuk masuk dan menggeledah puisi W. Haryanto, /Mungkin hidup dimulai pada rumput/Kami minta jiwanya yang hijau/agar kami bangkit//Dari tidur yang agung/inilah awal kisah;/ Namun selanjutnya pembaca akan kehilangan jejak dengan baris selanjutnya, air matahari yang menguap dari kendi/waktu dalam cahaya dan gema’Terlihat di mata kami/keyakinan pada peri/. Memang puisi ini akan menyeret pembaca ke daerah tak dikenal dan tak bertuan. Kata-kata sudah kehilangan arti denotatif dan konotatif. Kata diambil dari dunia kesehariannya, dilepaskan dari makna yang melekat, dan difungsikan secara “lain” demi puitik surrealis. Teraba makna baris-baris kalimat dalam puisi itu, tapi tak kongkret sebab puisi itu menyerupai mimpi. Strukturnya tak lazim, “gelap”, tak terpegang, dan karena itu menjadi maknanya ada dalam teks itu sendiri (self-referential). Pembaca mesti mendapat ungkapan-ungkapan atau kata-kata kunci, dan bagaimana ungkapan dan kata kunci itu mendapat pen-struktur-an melalui kalimat.
Puisi “Musium Tropika” baris-baris ini merupakan kunci untuk masuk. /Mungkin hidup dimulai pada rumput/Kami minta jiwanya yang hijau/agar kami bangkit//Dari tidur yang agung/inilah awal kisah;/ Setelah itu pembaca akan di/terseret ke wilayah tak dikenal, pergolakan dasyat kami-lirik dengan dunianya: /Kami rebah oleh penyangkalan atas diri/Sebuah pertumbuhan/pantai yang dikiaskan/hidup/Adalah kelepak sayap/kami berada di atas gurun/ Tapi puisi ini pada akhirnya akan kembali kepada awal dengan memanggil kata ungkapan “tidur agung” dalam struktur kalimat Dan kami telah memilih/berada di awal kisah:/sebuah tidur agung, makna yang/menghapus kami perlahan/Karena kami seperti hantu/setelah hidup!
Puisi ini adalah puisi penyangkalan kami-lirik dari keterpesonaan pada jiwa rumput yang hijau sebab kami-lirik lebih memilih lenyap tak membekas sebab kami seperti hantu setelah hidup. Pola seperti ini, merujuk pada dirinya sendiri, adalah ciri khas teks puisi karya W.Haryanto.
Penggunaan kata benda yang demikian berarti bagi kami/kami lirik disejajarkan dengan kata benda lain yang berlawanan untuk menggambarkan posisi yang dipilih aku/kami lirik. Dan aku/kami lirik tidak berujud subjek dalam peristiwa sadar tapi muncul/tenggelam, lepas/terpegang, bersama susunan benda-benda dalam struktur/dunia bawah sadar/mimpi. Maka, membaca puisi-puisi karya W. Haryantoterutama dalam kumpulan Labirin dari Mata Mayat (2002) maupun antologi bersama Manifesto Surrealis (2002) lupakan kesadaranmu, pengetahuanmu, dan masuklah kepada ketidakwarasanmu, sebab kau memiliki sisi gelap yang dalam dunia sehari-hari kau ingkari. Welcome to the dream! 
Imam Muhtarom, peminat puisi.

Sinar Harapan, 2003

0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate