Gerbong Maut




KAMI berada di atas gerbong yang melaju tak terkendali. Seperti menaiki sebuah perahu kayu yang berputar di atas ombak dan telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Perahu itu belum pernah berhenti. Kami seperti tersesat di perairan maha luas dan kami hanya bisa menduga-duga tentang keluasan itu. SEWAKTU kami telah menghabiskan buntalan nasi daun pisang yang bercampur aduk dengan sayur nangka muda sehingga nasi itu berwarna kecoklatan, sangat pedas sampai mulut kami seperti usai makan api dan berkata merajuk, “Ibu, perut kami mulas!”, ibu tidak memperhatikan bunyi suara kami. Apakah yang kami katakan berlainan dalam pendengaran ibu ataukah telinga ibu selalu mengartikan lain dari perkataan kami? Ibu tak hiraukan kami lagi? Kereta yang kami tumpangi terus berderak-derak melintasi persawahan lengang senja hari. Tampak langit di belahan barat merona kuning kemerahan menyaput dan satu-dua tampak burung melintas. Kami termangu. Kami berderet bertiga di mulut pintu gerbong. Gerbong yang kami tumpangi merupakan gerbong barang yang gelap tanpa tempat duduk dengan beberapa penumpang yang kepalanya menekuk di antara kakinya, dengan punggung bersandar di dinding gerbong yang kasar. Bapak ibu kami di pojok gerbong lamat-lamat tampak dalam pandangan kami. Kami merasa dalam perjalanan di atas kereta api ini -- kereta yang dihidupi api, menurut cerita kakek kami -- seperti menuju daerah tanpa batas. Daerah di mana kami yang jauh di balik gunung yang selalu tampak hitam lereng-lerengnya, mengelilingi tempat kami bersama bapak-ibu-kakak-saya-adik, tinggal. Sering kami dan sangat suka apabila sekali-sekali di tengah perjalanan kami, daerah tempat tinggal kami digenangi air sehingga setiap pagi menjelang terbit atau menjelang matahari tenggelam di bagian barat tempat kami tinggal, kami dapat meluncur bersama sebuah sampan, mengulurkan tali pancing seraya girang melihat kelap-kelip cahaya matahari terpantul oleh permukaan air. Burung-burung terbang menyisiri tepi-tepi perairan, awan-awan menggumpal membentuk bundaran-bundaran besar kecil seperti asap gunung yang menurut bapak ibu kami pernah berkali-kali meletus, angin yang ringan berhembus menyentuh-nyentuh permukaan badan kami. Kami senang. Bayangan, keinginan itu, timbul tenggelam dalam benak kami karena kami sering bertemu omongan-omongan yang entah kami tidak tahu asal muasal dan dengan maksud apa, mengatakan bahwa di balik gunung-gunung yang mengelilingi kami terdapat sebuah daerah, sebuah tanah, yang dalam musim hujan kami tidak akan menemui setetes pun air yang turun dari langit melainkan untaian bunga warna-warni yang wanginya sangat menusuk hidung hingga apabila terdapat tubuh manusia yang subur-suburnya dibusukkan oleh belatung dan tepat berada di depan hidung kami, maka kami hanya merasa bahwa tubuh penuh belatung mengeluarkan lendir itu merupakan sumber wangi. Walaupun demikian tanah tetap sejuk, matahari bersinar lebih redup dan kami dapat menyaksikan sebuah pemandangan laut terpampang di angkasa. Begitu pula ketika musim kemarau, begitu omongan-omongan itu melanjutkan omongannya. Matahari memang lebih terang daripada waktu musim penghujan. Tetapi tidak membuat keringat mengucur dari pori-pori badan. Cahaya matahari yang akan menyentuh kulit kami akan meresapkan rasa sejuk dan rasa sejuk itu akan menebar di seluruh urat-urat yang disebut otot, dan akan memasukkan zat -- entah zat apa karena omongan-omongan itu tidak menyebut suatu nama -- yang membuat urat-urat silang sengkarut bentuknya menghasilkan sebuah perasaan senang pada tubuh yang disesapi zat itu tanpa tahu apakah warna kulitnya hitam, sawo matang, kuning atau putih. Dan demikianlah kami akhirnya perlahan-lahan tidak pernah mengimpikan lagi mengenai sebuah danau yang sore hari kami meluncur ke tengahnya, membuat garis permukaan air timbul, mengombak pelan dan menyemburatkan cahaya matahari yang tampak merona yang membuat kami terpesona. Kami tidak mengimpikan lagi seekor burung melayap, menyisiri bibir danau, permukaan danau yang menyerupai cermin raksasa sebab apapun diatasnya akan terpantul olehnya, sehingga kami tidak diangan-angani dalam tidur kami tentang sebuah daerah terindah yang akan membuat kami kecewa sepanjang umur kami apabila kami tidak segera memasukinya. Begitulah kami kemudian merayu bapak-ibu kami dengan cara apa saja sehingga bapak ibu kami luluh lantak dalam kemauan kami, dalam kehendak kami. Mulanya mereka -- bapak ibu kami -- tidak segera menjawab karena padi yang menguning belum dipetik dan karena itu, mereka menyuguhkan alasan, kami tidak bisa makan. Kelaparan. Kurus kering tubuh kami dan kami busung lapar. Perut membuncit seperti balon yang tidak kami punyai sebagai hadiah lebaran yang bagi kami sangat menjengkelkan dan mengesalkan. Setiap hari lebaran kami tidak diberikan apa-apa kecuali sarung, peci dan berbeda dengan teman-teman kami dibelikan pakaian yang bisa digunakan untuk, seperti perkataan guru sekolah kami, silaturahmi. Kami merajuk sekali ini bahwa permintaan kami harus diluluskan. Dengan disertai omelan dan segenap ancaman-ancaman yang sangat baru dan kami tidak tahu bagaimana bapak ibu kami dapat mengeluarkan perintah-perintah yang menurut kami aneh. Kami dalam perjalanan kereta api itu tidak boleh berbicara sepatah katapun baik dengan mereka -- bapak ibu kami -- maupun kepada para penumpang yang barangkali menyertai dalam perjalanan nanti dan juga diantara masing-masing kami bertiga. Mulanya kami menyangka itu adalah perintah yang dapat kami samakan dengan tidak boleh bergurau pada saat kami menjelang tidur di kamar tengah yang lampunya ditaruh di luar kamar -- sebuah lampu minyak -- agar kami dapat bermimpi yang indah, bertemu buyut-buyut kami di angkasa yang tidak pernah kami lihat di siang hari. Di saat mata kami terbuka dan bagi kami tidak ada yang tersembunyi oleh tatapan mata kami yang bulat, jernih dan menurut orang tua kami sendiri, sangat hebat. Kami menurut. Perjalanan disiapkan. Kami berlima berjalan mengarah ke stasiun tua yang berada di pinggir kota yang mempunyai bangunan warna-warni, dinding-dindingnya adalah tembok dan berbeda sekali dari rumah kami yang hanya dilapisi sayatan-sayatan anyaman bambu. Stasiun itu sangat kekar, dindingnya sangat lebar dan lebih menyerupai bangunan kuno. Kata bapak-ibu kami itu peninggalan nenek moyang kami yang bukan berwarna sawo matang semacam kami ini melainkan putih seperti kerbau bule yang kami gembalakan di lapangan rumput yang kesukaannya menunggangi para betinanya maupun kerbau lain yang berwarna hitam. Bapak ibu kami tidak membeli karcis seperti yang diceritakan omongan-omongan itu. Kami langsung disuruh naik ke gerbong dekat kepala kereta yang berwarna hitam legam menyerupai arang. Begitu kami naik kereta segera berangkat, perlahan, dengan ledakan-ledakan di kepala kereta dan getaran-getaran pada badan kereta yang membuat kami, mula-mula, merontak sekujur permukaan kulit kami yang oleh bapak ibu kami disebut sebagai sawo matang. Kami memang tidak bercakap apa dan kepada siapapun. Kami hanya memandang-mandang dengan perasaan takut-takut kepada orang-orang menyertai dalam perjalanan kami yang sama sekali tidak menampakkan raut mukanya karena ditekukkan di antara dua kakinya sehingga kami sempat menduga bahwa mereka sedang melakukan perjalanan sangat jauh dan mereka sangat kelelahan. Sehingga mereka sepanjang perjalanan adalah tidur dan tidur. Alangkah sayangnya perbuatan demikian, pikir kami. Mereka telah menyia-nyiakan untuk pemandangan yang tidak ada di kampung halamannya, yang tidak dapat setiap hari dijumpainya, dan mungkin akan berubah setiap kali orang yang mengadakan perjalanan itu dengan naik kereta yang ditumpanginya sama dengan kereta yang sekarang ini bersama kami. Maka kami dengan sesuka hati menghadapkan muka kami ke luar gerbong kereta dengan pemandangan sungai-sungai yang tampak kecil apabila kereta yang kami tumpangi melintasi sebuah jembatan yang jaraknya dengan sungai itu sangatlah tinggi. Sungai itu tampak tenang, air mengalir di sela-sela batu runcing dan dalam bayangan kami pasti terdapat ikan-ikan gabus yang kecil, gesit, sisik-sisiknya mengkilau apabila tubuhnya mengkelok diantara bebantuan dan tepat pada saat itu secercah cahaya matahari menerpanya sehingga sangat menggembirakan hati bila dipandang dengan tidak bermaksud menangkapnya dan memotong-motongnya untuk kemudian melemparkannya ke dalam penggorengan yang berisi minyak panas mendidih. Kemudian kami mendapati rumah-rumah yang berada di lereng-lereng gunung yang tampak seperti menempel dan begitu saja diletakkan dengan semacam lem yang kami cemas apabila mendadak terjadi gempa yang dahsyat diiringi hujan lebat tiga hari tiga malam tanpa henti dan mendadak pula gunung itu meletus. Rumah-rumah kecil yang menempel itu terpental seperti potongan kardus dan entah bagaimana rupanya setelah terlempar begitu jauh di atas permukaan tanah yang bergunung-gunung itu. Mungkin akan bukan dampak sebagai bekas rumah melainkan kardus-kardus kue yang bertumpukan di belakang rumah kami dan berlepotan lumpur seperti yang selalu kami jumpai usai hari lebaran. ***



Bali Post Silakan Kunjungi Situsnya! 12 Januari 2002

0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate