MENGUJI KEPEKAAN DALAM DUNIA SEHARI-HARI

oleh Imam Muhtarom

Diterbitkan Penerbit Koekoesan, Oktober 2009
Ketidakpastian kehidupan manusia tidak melulu berisi tema-tema besar berkenaan dengan bagaimana mewujudkan keadilan dan kesejahteraan yang diemban oleh negara dan partai politik. Selain kadang tema-tema tersebut abstrak, juga sering berujung pada ketidakpastian. Keberadaan tema-tema besar tersebut dalam kehidupan keseharian terdengar berseliweran dalam pembicaraan maupun dalam liputan media, namun jauh dengan apa yang terjadi dalam praktik keseharian. Tidak mengakarnya tema tersebut dalam kehidupan keseharian antara lain masih sebatas slogan.

Sementara itu, kehidupan sehari-hari adalah suatu kehidupan yang intens, kongkret, dan langsung. Apa yang disebut sebagai masalah dalam kehidupan sehari-hari bukan berupa konsep, melainkan suatu pengalaman kongkret dan karena itu kompleks. Pengalaman yang menyangkut berbagai aspek baik material maupun non-material. Dan yang utama, pengalaman dalam kehidupan sehari-hari adalah langsung melibatkan badan serta emosional. Yang muncul dari periwtiwa keharian-harian adalah sesuatu yang tidak terduga, nyaris tak terencana, sehingga memberi kejutan-kejutan. Seringkali dalam praktik keseharian bukan saja menyentak bagi orang lain yang menyaksikan, tetapi juga si pelaku peristiwa sendiri tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Licinnya kenyataan keseharian inilah yang banyak menjadi acuan berkarya para penulis sastra di dunia. Selain kenyataan itu sendiri yang dialami detik-demi detik selalu lolos dari kerangka konsep, kenyataan tersebut juga menyuguhkan inspirasi yang tak pernah selesai. Oleh sebab itu, bukanlah sebuah slogan apabila sastra dan seni diciptakan manusia sebab hidup itu misterius.

Cerpen-cerpen Tangan untuk Utik (2009) karya Bamby Cahyadi tak lain upaya meletakkan dunia keseharian sebagai bahan cerita yang tidak habis-habisnya. Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini adalah serangkaian ketakjuban atas apa yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari itu. Ketakjuban itu terlihat pada keterputusan atau terlepasnya satu peristiwa dengan peristiwa lainnya dalam pikiran para tokoh utama cerpen. Tokoh-tokoh berada dalam tahap ketidakpastian mengenai apa yang sedang dan apa yang akan terjadi dalam kehidupannya. Ketidakpastian inilah yang menjadi tema kumpulan cerpen ini dengan bentuk penulisan realis dan surealis.

Dalam cerpen “Karyawan Tua” keterkejutan sekaligus ketidakpastian yang dialami oleh tokoh “aku” ketika ia menemukan kawan baru seorang karyawam tua yang hendak pensiun bunuh diri. Yang membuat terkejut tokoh “aku” adalah apa yang dilihat dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada diri si karyawan tua. Kondisi baik-baik yang diprasangkakan tokoh “aku” sama sekali tidak terjadi pada tokoh karyawan tua. Di balik kondisi baik-baik tersebut, sesungguhnya jiwanya keropos. Di balik kenormalannya, hidup karyawan tua tersebut diliputi kepalsuan. Cerita ini menarik dari segi tema maupun penggarapannya. Secara tekstual pembaca dihadapkan pada adegan-adegan tanpa memberi arahan pada satu kesimpulan. Kekuatan bentuk adegan dibandingkan dengan narasi tidak langsung ada pada penciptaan jarak antara pembaca dan cerita yang terbayang. Cerita menjadi “objektif” dan pada posisi itu pembicara dengan bebas membuat tafsir atas apa yang terjadi lewat adegan. (Sayang, di bagian belakang karyawan tua yang tak berkeluarga—hanya keluarga boneka—tidak muncul dalam adegan melainkan narasi tidak langsung.)

Kejutan dan ketidakpastian juga hadir dalam cerpen “Koran Minggu”. Ketidakpastian tokoh istri dalam menghadapi suami pengangguran berakhir dengan anti-klimaks. Ketidakpastian bercampur kejengkelan lantaran harus menguras tabungan bahkan pinjam ke orangtuanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Dalam kondisi ekonomi sulit, si suami malah pinjam uang beli komputer dan setiap hari Minggu beli 10 jenis koran. Cerita ini berakhir ketika si istri mendapati nama suaminya terpampang di koran sebagai seorang penulis. Mendapati nama suaminya, si istri melonjak gembira akan upaya si suami selama ini. Namun pada saat bersamaan si istri jatuh dalam nelangsa saat mendapati nama suaminya muncul dalam berita kriminal. Ia tewas tertembak lantaran merampok.

Ke-13 cerpen Bamby Cahyadi secara konsisten mengangkat kehidupan keseharian dengan berupaya menunjukkan berbagai kejutan-kejutan di dalamnya. Beberapa cerpennya berhasil menunjukkan kepiawaian dengan meninggalkan kesan dari sebuah peristiwa yang tidak terduga. Namun beberapa di antaranya tidak memberi efek kejut lantaran kejutan yang diharapkan klise dan sudah terbaca polanya.

Di atas semua cerpen, satu yang bagi saya menarik “Tameng untuk Ayah”. Cerpen ini bergerak dengan alur maju dan realis. Keutuhan dan kelengkapan latar fisik dan sosial di Palestina menimbulkan rasa simpati tersendiri di tengah berita abadi kekejaman dan tipu daya Israel. Kepenuhan situasi dalam penggambaran itu semakin menemukan momennya dengan sikap heroik yang diperlihatkan si anak dengan menjadikan badannya sebagai tameng dari peluru yang diberondongkan ke arah ayahnya. Cerita ini berbeda dengan ke-12 cerita pendek dalam karya Bamby. Cerita ini mengejutkan dengan cara yang sangat wajar, tanpa teknik efek kejut sebagaimana tampak pada cerpen “Karyawan Tua” maupun “Koran Minggu”. Seandainya ini sebuah novel, tentu, sangat menarik!***

Dari bedah buku kumpulan cerpen Tangan untuk Utik di Kedailalang, Kalimalang, 14 November 2009

0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate