Hilangnya Gaya Payung Hitam

Oleh Imam Muhtarom

Pentas teater tanpa dialog verbal yang berakhir dengan antiklimaks.

Panggung lengang, dengan lima bambu digantung mengisi panggung. Bersama sorot gambar topeng yang memenuhi dinding belakang panggung, muncul empat orang masuk. Mereka mengitari satu bambu di tengah untuk menggantung sosok boneka dengan topeng tradisional dan selendang tersampir di bahunya. Keempat aktor itu memutari boneka tersebut seraya mengambil air yang terletak di wadah tepat di bawah kaki si boneka.
Mereka membasahi rambut dan muka dengan air, lantas menuju ke empat bambu. Mereka mengeksplorasi bambu dengan mengayunkan sekaligus diayun oleh beban tubuh yang menggantung. Situasi puitis ini bertahan sampai sosok bertopeng terbalut kain merah tipis masuk dengan suara bising dari benturan dua piringan besi di tangannya sehingga mengacaukan situasi puitis tersebut.
Si pengacau itu terus-menerus membenturkan lempengan besi yang suaranya memekakkan telinga, seolah berteriak-teriak. Keempat tokoh bertahan dari tiap gangguan. Namun hanya aktor perempuan yang berhasil mengusir si pengacau setelah mengambil selendang putih yang tersampir di bahu si boneka bertopeng. Setelah mengusir, si perempuan memperagakan tarian Cirebonan lengkap dengan iringan musiknya. Panggung kembali kepada situasi harmoni sebagaimana sebelum si pengacau tiba.
Namun keadaan ini tak berlangsung lama. Si pengacau berkaki tinggi tiba dan mengobrak-abrik tatanan panggung. Keberhasilan si kaki panjang ini sampai membuat topeng-topeng yang dikenakan keempat aktor jatuh ke lantai panggung dan diinjak sampai pecah berkeping. Antiklimaksnya, keempat aktor berusaha sekuat tenaga melawan si kaki panjang. Di akhir pementasan, si kaki panjang jatuh terjengkang di sisi sebelah kiri panggung.
Itulah pementasan lakon Puisi Tubuh yang Runtuh oleh Teater Payung Hitam di gedung Cak Durasim, Surabaya, Jawa Timur, Kamis malam lalu. Pementasan sekitar 30 menit itu berakhir dengan antiklimaks. Harapan yang begitu tinggi para penonton pada pementasan teater ini tak terpenuhi.
Memang dalam lakon kali ini Payung Hitam secara konsisten membawa pementasannya sama sekali tak menggunakan dialog. Selain lima aktor, hanya ada properti berwujud lima potong bambu menggantung yang salah satunya boneka memakai topeng, multimedia yang disorot ke dinding belakang panggung, dan musik.
Itu tentunya membuat semua medium di atas panggung dituntut “berbicara” dengan membangun komunikasi dengan penonton. Bagaimana interaksi aktor dengan bambu, multimedia yang berisi berbagai potongan topeng Cirebon dan api menyala, boneka menggantung dengan selendang tersampir di bahu, tentu musiknya dapat merangkai satu sama lain sehingga membentuk bahasa yang bisa dimengerti oleh penonton. Karena itu bukan bahasa verbal, satu-satunya cara agar bahasa ini sampai ke penonton adalah perlu ada bangunan suasana yang hidup di atas panggung.
Masalahnya, satu interaksi antara properti dan tokoh maupun antartokoh sering tak menimbulkan adegan yang hidup. Seperti adegan aktor kaki panjang menginjak topeng Cirebon yang terlempar di lantai panggung hingga pecah berkeping, dan adegan memukul-mukulkan selendang putih yang tersampir di boneka ke lantai panggung. Ini jelas pesannya, tetapi adegan semacam ini betul-betul klise.
Melihat pentas kali ini, memang ada perubahan dalam Teater Payung Hitam. Pentas-pentas sebelumnya tak peduli pada masalah betapa perihnya yang tradisional dalam budaya Indonesia, sedangkan dalam pertunjukan ini sangat kental tema itu disuguhkan. Dalam pentas seperti Kaspar(1996), tak ada properti, bahkan nuansa tradisional. Semua energi panggung dikerahkan untuk menyampaikan obsesi kekerasan dan tubuh sebagai satu-satunya wujud kekerasan beroperasi. Situasi konflik dan tubuh sebagai pertahanan terakhir berhasil dihadirkan di panggung.
Istilah inkonvensional dalam lakon Kaspar bisa dikatakan tepat. Lakon itu tak hanya bebas dari dialog verbal, tetapi secara maksimal juga menggunakan tubuh dan properti panggung. Idiom-idiom baru muncul dalam panggung, dan hidup. Karena itu, Kaspar disebut pentas yang berhasil.
Kata inkonvensional ini sepertinya tak lagi berlaku untuk menjelaskan lakon Tubuh Puisi yang Runtuh. Rupanya, ada arah lain yang ditempuh Teater Payung Hitam kali ini. Beban tergerusnya budaya tradisional benar mewarnai panggung. Sutradara Rahman Sabur mengatakan kemirisannya atas dominasi yang kuat budaya Barat.
Kekhawatiran di tingkat gagasan itu rupanya membawa implikasi yang cukup kuat pada bentuk pementasan malam itu. Sekalipun tetap membawakan dalam bentuk tanpa dialog dan maksimalisasi keaktoran serta properti panggung, kesedihan akan terpinggirnya yang tradisional membawa hilangnya dinamika yang pernah cemerlang dalam lakon-lakon Teater Payung Hitam sebelumnya.
Boleh saja lakon kali ini tidak lain merupakan respons terhadap kondisi budaya Indonesia hari ini, sebagaimana lakon-lakon sebelumnya yang juga respons atas pekatnya situasi otoriter Orde Baru. Namun yang hilang dari pementasan kali ini adalah menemukan idiom-idiom baru sebagai peretas kebekuan dari dunia teater itu sendiri maupun dari kebekuan yang muncul di publik akibat sesaknya retorika yang bekerja. Nah, kesan inilah yang tak ada selama pertunjukan di hadapan sekitar 350 penonton malam itu.
“Pentas Teater Payung Hitam malam ini adalah pentas yang inkonvensional. Segala tafsir yang beragam dari penonton sah,” kata Rahman Sabur. IMAM MUHTAROM (PENGAMAT TEATER)


koran Tempo, Minggu, 28 Maret 2010
Bookmark and Share

0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate