MERAWAT KEBERAGAMAN FESTIVAL UBUD

Tantangan terbesar dunia sastra di Indonesia adalah bagaimana mengeskpresikan berbagai hal dalam ikatan tema yang utuh. Persoalan mengekspresikan di sini tidak sekadar menyampaikan apa yang ada sehingga proses komunikasi terjadi. Sastra sebagai sebuah seni bukan sekadar persoalan komunikasi. Lebih dari itu, sastra merupakan fakta (artefak) kultural yang kalau dibaca akan menunjukkan berbagai kenyataan kulturalnya terkait waktu dan tempat penulisannya. Karya sastra selalu—sadar atau tidak—mempertimbangkan karakter kultural di mana teks itu dituliskan. Karakter semacam ini bukan lantaran kesengajaan atau keharusan dalam proses kreatif penulisan, melainkan sesuatu yang sudah terberi (given). Karakter kultural—apa pun kulturalnya—sudah melekat dan tampak dalam setiap aspirasi penulisnya.
Dengan kata lain, tanpa disebut identitasnya, setiap karya sastra pada hakikatnya akan menunjukkan diri lewat unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam karya sastra merupakan susunan sekaligus manifestasi pikiran dan rasa manusia yang abstrak.
Dalam konteks gagasan pentingnya multikultural, pernyataan identitas bukan hanya perlu tetapi juga mendapat apresiasi yang lebih. Identitas ini meluas cakupannya dari sekadar agama, etnis, dan asal negara, mencakup juga kalangan feminis, gay, lesbian, punk, dan kelompok lain yang dianggap minoritas. Apalagi dalam masyarakat kontemporer ini, keberbedaan itu nyaris ada pada setiap lini kehidupan. Keberagaman dan keberbedaan sudah asali.
Penghormatan akan adanya keberbedaan dan keberagaman itulah yang menjadi dasar dari Ubud Writer and Reader Festival 2010. Karena itu, istilah bhinneka tunggal ika yang menjadi konsep berbangsa dan bernegara di Indonesia, dijadikan tema utama pada program ini. Tema ini menarik. Selain tema itu ikonik dengan keindonesiaan, pengertian istilah itu semakin hari kian relevan dengan kondisi Indonesia sendiri maupun dunia. Saya kira tema Binneka Tunggal Ika merupakan tema paling menarik di antara tema lain di UWRF selama ini. Satu-satunya alasan adalah tema ini demikian kontekstualnya bagi kehidupan manusia sekarang.
Adanya kecemasan akibat merangseknya kelompok Islam garis keras dengan aksi terorisnya semenjak 2002, gagasan pentingnya keberbedaan menjadi isu utama. Bahkan, istilah bhineka tunggal ika yang dalam masa Orde Baru kerukunan dipaksakan, menemukan masalah ketika aroma demokrasi benar-benar dilaksanakan semenjak 1998. Bhinneka tunggal ika sungguh relevan menjadi jawaban atas pertanyaan dan persoalan seputar konflik yang bermunculan di Indonesia dan dunia sekarang.
Sitor Situmorang sebagai undangan seniman utama menyatakan bhinneka tunggal ika merupakan perekat dari berbagai perbedaan yang ada di Nusantara sekaligus menyatukan Nusantara sebagai suatu bangsa. Konsep yang terkandung dalam istilah Bhineka Tunggal Ika ini tumbuh dan berkembang ratusan tahun lamanya dalam situasi politik yang berubah-ubah. Namun, sekali lagi, konsep yang terkandung dalam Bhineka Tunggal Ika tetap digunakan dalam situasi yang demikian modern saat ini.
Dalam konteks kebudayaan, kebhinekaan menjadi cara hidup di antara berbagai macam identitas dalam satu entitas tunggal Indonesia. Untuk itu acara Tribute To Gus Dur pada 6 Oktober 2010 di Ubud menarik perhatian. Terlebih di sana ada Greg Barton diikuti pementasan tari dengan gagasan dasar tentang kebhinekaan ini. Gus Dur menjadi satu simbol bagaimana ide kebhinekaan dijalankan tanpa beban dan rela.

Program-Program
Pertemuan-pertemuan di UWRF 2010 dihadiri oleh penulis asal China, Malta, Palestine, Israel, Lebanon, India, Pakistan, Sri Lanka, Burma, Vietnam, Malaysia, Singapura, Prancis, Bosnia, Turki, Afrika Selatan, Australia, Inggris, Irlandia, Amerika dan Kanada, serta Indonesia.
Acara di Ubud tersebut tidak mungkin satu orang mencakup semua acara. Sebab acara yang berjumlah puluhan itu dirangkai dalam 4 hari di tempat yang beragam pula. Jadi, seorang peserta atau pengunjung harus selektif sesuai selera dan kebutuhan yang diminatinya.
Memang, tidak semuanya acara diskusi bisa dimaknai sebagai masalah kebhinekaan. Barangkali yang urgen untuk dikaitkan dengan kebinekaan adalah tema terorisme, kekerasan, masalah sensor dalam berekspresi, dan pernyataan-pernyataan kalangan minoritas dalam syair-syair para penyair Australia, Timor Leste, Filipina, dan sebagainya. Atau, bisa juga setiap acara dimaknai sebagai bagian cara menemukan sekaligus menghormati adanya keberadaan itu. Artinya, dengan cara mendatangkan para penulis dan seniman dari penjuru dunia maka dengan sendirinya akan tercipta situasi keberbedaan. Keberbedaan itu dalam festival ini ditunjukkan sebagai sesuatu yang fitrah. Mulai dari warna kulit manusia itu beragam jenisnya, apalagi pikirannya (baca: kebudayaannya).
Namun, seberapa kuat penempatan tema dalam rangkaian acara ini, yang terasa adalah suasana festival. Sebagaimana yang terjadi pada setiap festival adalah sifat kemeriahan itu sendiri, terutama dalam UWRF 2010 dengan dukungan tempat-tempat pertunjukan yang gigantis dalam ukuran dan ekstotis dalam selera. Apalagi dengan keberadaan sponsor papan atas, keinginan untuk festival di Ubud ini mendunia tampaknya mudah sekali terwujud.
Menarik ucapan Sitor Situmorang yang saat itu mendapat penghargaan Saraswati Literary Award dari Mastercard atas pengabdiannya di dunia sastra, bahwa suatu festival adalah bentuk pengharapan akan adanya penulis-penulis sastra yang berkualitas. Kualitas festival bukan hanya tergantung pada kerja kepanitiaan UWRF 2010 yang memang profesional. Kualitas itu juga tergantung siapa yang menjadi partisipan di dalamnya. Tampaknya, yang perlu diagendakan adalah membuat sesi-sesi tertentu lebih istimewa mengacu pada tema yang diangkat dalam rangkaian UWRF. Dengan demikian, akan terasa guratan tematik dalam rangkaian acara. Tidak saja mengundang penulis-penulis terbaik, tetapi bagaimana menjejakkan tematik sebagai spirit dalam festival yang telah 7 tahun lamanya berjalan. Selamat.

Penulis :Imam Muhtarom, peserta Ubud Writer and Reader Festival 2010

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 17 Oktober 2010.

0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate