Prihatin Banyak Penulis Abai Kualitas demi Kuantitas


PDF Print
Media massa sebagai salah satu penyampai warta juga punya peran dalam perkembangan sastra.Honor yang ditawarkan menjadi salah satu alasan para penulis mengirim karyanya.Namun,kuantitas tayang sering kali tidak bergandeng renteng dengan kualitas. Imam Muhtarom,salah satu peserta Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2010 merasakan itu.


SOREmerambat senja di Surabaya yang begitu cerah. Sebuah warung kopi di kawasan Karang Menjangan pada hari kemarin memang agak sepi. Seorang lelaki berambut cepak sedikit beruban menikmati segelas kopi hitam. “Bagaimana kabarnya,” Imam Muhtarom ramah menyapa SINDO. Ramah dan santun.Itulah kesan yang ada pada diri pria kelahiran Blitar, 33 tahun silam.

Di hadapannya tergeletak buku bersampul cokelat bertulisan, Bhineka Tunggal Ika: Harmony in Diversity,A Bilingual Anthology of Indonesian Writing. Imam baru saja menghadiri acara UWRF 2010 di Bali, 6–10 Oktober 2010. Ia memantik korek api lalu menyulut rokok kretek dan menghisapnya dalam-dalam. Obrolan akrab pun ditemani asap rokok yang menari diembus angin sepoi- sepoi. “Aku sendiri tidak mengira bisa jadi peserta.Karyaku,yang cerpen, sudah jarang tayang di media,” tutur Imam.Festival tahunan ini juga mendatangkan pembicara dari luar negeri seperti Israel,Australia,Filipina, dan beberapa negara lain.

Segelas kopi dengan aroma menggoda disuguhkan untuk SINDO. Obrolan pun terhenti sejenak. Imam kembali menceritakan pengalamannya.“ Media sekarang cenderung mendikte penulis untuk mengikuti selera pasar.Seharusnya media harus ikut berperan dalam membangun tradisi sastra yang berkarakter,”lanjut Imam. Di Ubud,Bali,Imam tampil bersama 12 prosais atau cerpenis lain, serta 7 penyair dari seluruh Indonesia. Tidak semua karya sastrawan tersebut sering tampil di media. Kurasi festival ini adalah kualitas, bukan kuantitas. Bagi Imam, menulis sastra merupakan bagian dari kerja kemanusiaan. Dengan alasan itu pula pria yang pernah tinggal di Jakarta dan menjadi editor ini tidak pernah memaksakan dirinya menulis.

“Terkadang muncul godaan menulis untuk mencari uang. Namun, itu sungguh tidak baik untuk proses kreatif kita.Kualitas bisabisa diabaikan,” tuturnya menegaskan. Namun, Imam mengakui akan lebih baik juga sastrawan itu bisa menulis karya banyak dengan kualitas masih terjaga.“Terpenting jangan menuruti pasar,jalan berjualan dalam tanda kutip,menulislah dengan nurani,” tuturnya yang diikuti tawa. Belum tuntas Imam tertawa,seorang pengamen dengan percaya diri bernyanyi.“Bertahan satu cinta… bertahan satu ce..i..en.. te…a….,”dan pengamen itu menghentikan lagunya setelah keping logam mendarat di telapak tangannya.

“ Selera pasar,” celetuk Imam. Ia lalu menyeruput kopinya. SINDOpun berkesempatan menikmati kopi di sela tugas kerja.Bagi Imam, saat ini penulis pemula sering salah motivasi.“Kalau ingin terkenal atau kaya,jangan menulis sastra,”kritiknya. Dibanding negara lain, kondisi sastrawan atau penulis di Indonesia memang memprihatinkan.Tidak mungkin seseorang menggantungkan hidup dari honor menulis. Kondisi ini sekarang masih diperparah lagi kondisi penulis pemula yang gampang puas.Baru dimuat di media beberapa kali sudah merasa menjadi penulis besar. “Proses bersastra itu tidak instan dan berhenti ketika karya dimuat di koran,” tuturnya sambil mengernyitkan dahi. Untuk sampai pada titik saat ini, Imam mengaku sudah berproses sejak 1995.Saat itu,ia baru menjadi mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Airlangga (Unair).

“Prosesnya panjang dan sampai sekarang masih terus berproses,” ungkap pria yang kini bekerja sebagai salah satu staf di Universitas Narotama Surabaya. Namun,kondisi penulis di negeri ini masih lebih baik dibanding Filipina yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional kedua.Imam optimistis iklim penulisan akan lebih baik jika semua pihak pendukung. “Termasuk kritikus sastra.Saat ini kita sudah tidak punya,” ungkapnya. Namun, Imam menilai tugas kritikus sebenarnya bisa diemban peresensi buku. Jika resensi buku ditulis dengan objektif, secara tidak langsung bisa menjadi kritik. “Jangan menulis resensi buku hanya untuk alat promosi,” ucapnya. Gejala ini memang terjadi, ketika sebuah resensi dimuat di salah satu media besar hampir bisa dipastikan buku itu akan cetak ulang.“Itu fakta,”tegasnya.

Buku bersampul cokelat masih tergeletak.Antologi yang disajikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris itu diraih Imam.“Ini kamu bawa saja,”ujarnya pada SINDO sambil menyodorkan buku tersebut. Perbincangan pun berlanjut. Senja kian merapat dan matahari kian condong ke barat. Dua gelas kopi sudah tandas dan berbatangbatang puntung rokok berceceran telah menemani perbincangan ini. (zaki zubaidi)
Seputar Indonesia, Senin, 18 Oktober 2010



0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate