Mencari Islam dalam Seni Rupa

Memasuki gedung A Galeri Nasional suasananya tidak sepenuhnya menyarankan keadaan islami, sekalipun semenjak awal sudah disampaikan bahwa ini sebuah acara mengenai seni rupa Islam.

Apa yang tertanam dalam benak setiap pengunjung mestilah sebuah situasi islami yang membedakan dengan ruang-ruang bukan islami.

Namun, harapan itu ditantang dan pengunjung seakan diminta merumuskan kembali Islam yang selama ini hadir dalam situasi yang telah diformalkan atas nama Islam: baju koko, kopiah, gamis, sapaan berbahasa Arab, musik Timur Tengah, dan gambar maupun lukisan berbasis kaligrafi.

Dalam pameran ini, beda. Apa yang disebut Islam yang marak dalam kehidupan masyarakat, ditafsir ulang, bahkan diberikan tawaran baru bahwa Islam bisa bermacam rupa, namun tetap mengandung substansi Islam.

Islam tidak berupa rumusan formalistik dengan simbol-simbolnya yang ketat, tetapi mestinya meluas menjangkau semua sudut dan semua makhluk di semesta ini.

Untuk itu, pameran seni rupa Islam Indonesia kontemporer bertajuk “Bayang”, yang diselenggarakan alumni ITB dan Yayasan INISAF di Galeri Nasional, 27 Juli-14 Agustus 2011 adalah upaya merealisasikan pemikiran-pemikiran tersebut.

Pameran ini rupanya lebih maju beberapa langkah daripada pameran Istiqlal pada 1991-1995. Jika pada pameran tersebut hanya berkutat pada simbol-simbol konvensional yang sudah lazim dalam Islam, pameran yang dikuratori Rizki A Zaelani dan A Rikrik Kusmara ini berusaha meretas berbagai pembatasan.

Istilah kontemporer dalam pameran ini tampaknya menjadi salah satu pijakan guna memasukkan dan mengakomodasi perkembangan seni rupa kontemporer.

Kontemporer menjadi bagian yang tidak terpisahkan berupa pilihan bentuk, warna, simbol yang digunakan, dan bahan yang dimanfaatkan. Kontemporer, juga berarti para perupa yang menghias sifat kontemporer seni rupa Indonesia.

Karya Farhan Siki berjudul "God Also Loves Grafiti" tentunya menyatakan kategori tersebut. Karya berupa tulisan, insya Allah, yang dibuat sebagaimana orang membikin poster dari cat yang disemprotkan dengan huruf latin warna-warni serta bekas semprotan yang lepas dari cetakannya.

Pun urutan hurufnya tidak secara pasti membangun susunan kata tertentu. Cara pembuatan semacam ini lazim dalam pembuatan poster, yang tidak lazim susunannya tidak merangkai dalam satu kalimat bahkan kata secara spesifik.

Menarik juga memproduksi teks-teks yang terkait dengan Islam lewat huruf latin. Cara pembuatan sama sekali tidak mengubah arti, tetapi memberi persepsi lain dan tentunya memberikan intensi lain pula ketika itu terkait sesuatu yang suci dan dianggap tidak bisa diperlakukan seenaknya.

Berbeda lagi ketika karya video art yang mengisahkan perjalanan seekor kepompong hingga menjadi seekor kupu-kupu di tengah bentang cuaca hujan dan berpetir dengan latar sebuah kota dan gunung-gemunung. Selama keadaan cuaca buruk itulah proses menjadi dari kepompong hingga menjadi seekor kupu-kupu yang terbang terjadi.

Video itu kurang lebih berdurasi 10 menit. Di bagian kayunya terdapat dua kayu yang menggambarkan—entah sengaja atau tidak—dua anak berkopiah. Karya video art ini diberi judul ”Iqra! Baca! Read!”

Penonton benar-benar tidak disuguhi sesuatu yang islami, kecuali sebutan iqra yang merupakan bahasa Arab dan menjadi bagian wacana Islam. Namun, justru dalam situasi inilah yang menjadi perenungan mendalam dalam bentuk lain seperti yang ditawarkan jenis seni kaligrafi yang dalam pameran ini perkembangannya terasa stagnan.

Selain itu, karya rupa tiga dimensi dari Yani Mariani Sastranegara berupa bongkahan seng gelap yang seolah dibelah tengah sehingga pengunjung dapat memasukkan kepalanya ke dalam.

Di dalam terdapat bintik-bintik cahaya dari tebaran lubang-lubang yang membentuk seolah kolong langit di malam hari. Sementara itu, bagian tengah kolong terdapat besi sebesar jari warna keemasan disusun zig-zag merentang.

Sama sekali dalam karya ini tidak menyiratkan simbol Islam. Yang mengesan rupa miniatur semesta malam yang hening. Tiada simbol Islam yang menyerobot dalam karya ini.

Tetapi, kita tahu bahwa dalam kebesaran semesta malam itulah manusia terasa sekeping debu yang tak berdaya. Saya kira justru karya itu demikian islaminya.

Sepanjang pameran di gedung A Galeri Nasional, tampak pilihan karyanya dinamis dengan kekuatannya masing-masing. Ada patung seukuran manusia serupa Ayatolah Khoemeini duduk di karpet dengan judul "Revolusi tanpa Amerika". Kemudian lukisan gaya Rembrandt berjudul "Potret Ki Uli" karya Alinsyah.

Karya-karya tersebut memiliki kelebihan dan semakin memadu ketika bertemu karya lainnya sehingga membangun kedinamisan ruang pameran. Terasa ada pertimbangan matang dari pihak kurator baik pilihan karya, tema, penataannya. Visi pameran ini demikian terasa.

Keadaan ini rupanya tidak terjadi di Gedung C yang, selain ruangnya monoton berupa sekat serupa kamar-kamar, juga karyanya tampak dipilah berdasarkan kecenderungan yang sama baik bahan maupun tematik yang diusung. Sekalipun dipajang beberapa karya dengan media berbeda, tampak tidak menimbulkan saling respons yang memikat.

Barangkali ada unsur paksaan dalam penempatan, kualitas karya itu sendiri, dan tidak adanya tawaran kecuali verbalitas kehendak untuk bicara Islam. Ini berbeda sekali dengan atmosfer yang terbentuk di gedung A.

Namun demikian, pameran yang diikuti 200 karya seniman dari kota-kota di Indonesia ini, patut mendapat apresiasi. Bukan sekadar kehendak estetika saja, tetapi juga memahami berbagai aspirasi tentang Islam di pelbagai wilayah Nusantara. Sekalipun, kondisi Islam di Indonesia jauh lebih dramatis dari apa yang tersampaikan lewat pameran Bayang ini.***

Imam Muhtarom
 
Terbit di Harian Sinar Harapan. http://www.sinarharapan.co.id/content/read/mencari-islam-dalam-seni-rupa/

0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate