SENI RUPA INDONESIA MODERN: DARI NASIONALISME MENUJU PASAR




Judul: Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esai
Penulis: Soedjojono, Sanento Yuliman, Jim Supangkat, Aminudin TH Siregar, Goenawan Mohamad, Afrizal Malna, dll.
Penyunting: Bambang Bujono dan Wicaksono Adi
Penerbit: Dewan Kesenian Jakarta, 2012
Tebal Buku: xl + 616 hal

Sejarah seni rupa Indonesia modern belum lama, kurang-lebih baru 80 tahun berjalan. Walaupun sejarah seni rupa Indonesia masih pendek, namun hal itu penting untuk menilik kembali apa-apa yang telah terjadi mengingat sejarah meruapakan latar belakang yang membentuk kekinian. Sejarah berperan sebagai sarana merefleksikan seni rupa kini akibat perkembangan dunia global saat ini, tergerusnya nilai lokal yang tidak relevan dianggap satu-satunya sumber jati diri, dan maraknya konsumerisme yang justru memberi banyak pilihan sekalipun sebenarnya seragam.
Dalam situasi demikian, penting diperhatikan kemunculan buku Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esei. Buku ini hendak mengingatkan serangkaian sejarah yang menjadi latar belakang seni rupa Indonesia modern. Awalnya, sejarah seni rupa modern Indonesia muncul bersamaan spirit nasionalisme yang berkumandang pada 1930-an, atas prakarsa Sudjojono. Kemudian muncul seni dan politik cukup keras pada paruh pertama 1960-an. Disusul Gerakan Seni Rupa Baru pada tahun 1970-an. Dilanjutkan masa booming seni lukis pada 1980-an. Setelah itu tidak ada gerak yang signifikan dalam perjalanan seni rupa indonesia, kecuali kegelisahan pada infrastruktur seni rupa yang kalah oleh insfrastruktur pasar seni rupa. Alhasil, perayaan pada seni rupa media baru tidak lain kepanjangan apa yang sudah dirintis oleh Gerakan Seni Rupa Baru pada 1970-an.
Buku ini disusun secara kronologis berdasarkan topik dan bukan pada kronologis pelaku sejarahnya. Artinya, pada masa 1930-an tidak hanya melulu esai atau ulasan yang muncul pada saat itu tetapi juga tulisan Onghokham yang ditulis pada 2005 mengenai mooi indie  (hal 65-73), atau tulisan Dan Suwaryono. Sementara sebagian besar tulisan berjumlah 70 esei ini ditulis ketika peristiwa seni rupa sedang atau masih terasa semangatnya. Kita bisa menemukan tulisan Affandi yang tengah pidato di Sorbone, tulisan Soedjojono tentang mooi indie, tulisan Trisno Sumardjo tentang kubu Bandung yang mengabdi ke Barat beserta perdebatannya, tulisan Jim supangkat sebagai “jubir” Gerakan Seni Rupa Baru. Membaca tulisan demikian, kita terasa menyaksikan sebuah film dokumenter.
Dalam seni rupa gagasan sosial dan politik dirumuskan secara sistematis pada masa pemerintahan Soekarno. Sistem multipartai memungkinkan kesenian sebagai cara menjaring massa di satu sisi, sementara pada sisi lain Soekarno sendiri superpatron (istilah Agus Dermawan T) bagi seniman-seniman saat itu.
Orde Baru sebagai antitesis Orde Lama menginginkan kegairahan politik yang berlebihan disudahi. Seniman pendukung PKI dipenjara, dibungkam, dan disiksa. Orde Baru menginginkan kondisi politik stabil, negara semangat membangun terutama menata bidang perekonomian. Pada masa ini kesadaran artistik menjadi demikian menonjol lebih dari masa sesudahnya, terutama setelah ITB dan ISI eksis sebagai lembaga pendidikan kesenian. Sanggar meredup pamornya, juga ekspresi politik meredup. Jika pun ada menjadi penuh simbol seakan menghindari ekspresi realisme sosial.
Munculnya Gerakan Seni Rupa Baru pada 1974 tidak lain kegelisahan artistik di tengah kian membaiknya sektor ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang ditandai masuknya berbagai barang dari luar maupun hasil dalam negeri secara sosial membentuk panorama visual tersendiri. Masa Orde Baru yang ditandai membanjirnya iklan produk dan pembangunan secara berbarengan serta surutnya slogan-slogan politik adalah lanskap visual yang menandai perubahan kekuasaan. Munculnya Moeljono di Yogyakarta, Semsar Siahaan di Jakarta, Saiful Hadjar di Surabaya, kemudian karya Heri Dono, Tisna Sanjaya adalah  turunan dari karya yang lahir dalam kerangka reaksi terhadap sikap otoriter Orba.
Namun demikian, pasarlah yang menjadi pemenang baik di wilayah politik dan juga di wilayah seni rupa. Penempatan bab “Perihal Pasar” di akhir bab dan bukannya menempatkan bab “Arus Kontemporer” pada bab terakhir seakan tanggapan atas situasi ini. Kekinian yang dimaksud dalam istilah kontemporer memang lebih dekat ke arah pasar. Penempatan bab ini tidak sekadar usaha meletakkan agar sekronologis mungkin, tetapi terasa nada sinis yang hendak diselipkan. Kontemporer tidak  karena media baru yang memungkinkan berekspresi semacam video art, internet, peralatan komunikasi dan seterusnya, tetapi urusan selera. Selera memang sulit diperdebatkan, namun selera siapa yang lebih dominan, itulah persoalannya. Buku ini diakhiri oleh carut-marutnya eksperimentasi pasar dalam menyerap sekaligus mengarahkan seni rupa Indonesia saat ini. Ada penulis seni rupa yang senang oleh situasi ini, namun kebanyakan pesimis bernada sedih. ***

Penulis: Imam Muhtarom, pemerhati seni rupa.

Terbit di Koran Tempo, Minggu, 8 April 2012





 



1 comments:

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate