Kearifan Seni Tradisi: Melihat Kembali Lenong Betawi

KEARIFAN SENI TRADISI: MELIHAT KEMBALI LENONG BETAWI

Oleh Imam Muhtarom

credit foto: Imam Muhtarom 
“Penonton Lenong Betawi itu merangsek mendekati dua panjak Lenong yang melompat di bawah panggung.

Keduanya saling memasang kuda-kuda. Ada cairan merah mengalir dari dahi salah seorang panjak Lenong. Salah seorang memegang badik yang mengkilat oleh terpaan cahaya. Tak berapa lama mereka saling mengeluarkan jurus. Penonton merangsek membentuk lingkaran. Musik gambang kromong bertalu-talu bunyinya dari atas panggung. Suasana pertunjukan lenong dari grup Putera Betawi terasa tegang. Tak berapa lama salah seorang panjak berambut gondrong yang adu silat terkapar di tanah...”.

Adegan panjak pemain lenong yang berada di pihak kebenaran berhasil mengalahkan panjak pemain yang berada di pihak kejahatan terjadi pada Minggu dini hari (pertengahan Mei  2015), berlokasi di lapangan Desa Sukasari, Kecamatan Rajeg, Tangerang. Lewat adu jurus silat yang sama-sama andal, kedua panjak ini berhasil menarik minat penonton. Pertarungan ini memuncak dengan dikalahkannya panjak silat dari gerombolan perampok. Tidak hanya dikalahkan dalam adu jurus silat, panjak silat ini diguyur air sehingga seluruh pakaian yang ia kenakan basah kuyup. Si tokoh dari kalangan jahat ini memohon ampun. Tak peduli, tokoh panjak dari pihak yang benar memaksa pakaiannya dilepaskan. Dengan terpaksa ia melepaskan. Tak sampai di situ. Ia dipaksa melepas kaus singletnya. Tokoh jahat ini tidak mau. Si tokoh benar dengan kawan-kawannya menarik paksa kaus tokoh jahat ini. Kaos itu robek dan bagian atas si tokoh terbuka. Tidak berhenti di situ saja. Celana panjang si tokoh jahat dipaksa dilepaskan. Akhirnya, si tokoh jahat hanya mengenakan celana kolor.

Ketika si tokoh jahat ini minta minum, bukannya diberi minuman, si tokoh jahat justru dipukul kepalanya dengan air gelas kemasan dalam beberapa kesempatan. Setelah basah kuyup si tokoh jahat ini dilempar dipaksa turun dari panggung. Ia tidak boleh turun panggung lazimnya dengan menyelinap dari tirai panggung. Beramai-ramai mereka mendorong tokoh jahat dalam keadaan nestapa ini turun panggung dari tangga depan panggung. Ia berjalan terseok-seok mencapai belakang panggung.

Begitu tokoh jahat kalah dan menghilang dari panggung, penonton perlahan beranjak dari berdirinya dan kembali ke tempat duduknya semula. Mereka kembali dalam kondisi menonton dengan lebih rileks. Sementara itu lakon “Kaca Beracun” yang dimainkan berjalan ke babak berikutnya hingga babak kesepuluh. Pada babak kelima muncul lakon yang merupakan kisah dari “Kaca Beracun”.

 Dikisahkan tokoh seorang ibu rumah tangga yang masih seksi memaksa meninggalkan suaminya yang telah tua renta dan kedua anaknya. Sebenarnya mereka tidak setuju dengan kepergian ibu tersebut. Tapi si ibu memaksa karena tidak tahan dengan kemiskinan. Akhirnya, si ibu diizinkan pergi ke kota untuk mencari kerja.

Dalam perjalanan ke kota si ibu melamar menjadi pembantu pada keluarga kaya. Empunya rumah ternyata duda beranak satu. Si tokoh perempuan ini mengaku bahwa ia tidak berkeluarga. Hidupnya sebatang kara tiada berkeluarga. Bukannya si duda menjadikannya pembantu, malah ia menjadikan si ibu ini istrinya. Mereka akhirnya menikah.

Si keluarga yang ada di desa lama tidak mendengar kabar si ibu. Kedua anaknya mencari ibunya ke kota. Setelah melewati berbagai kesulitan keduanya menemukan ibunya berada di rumah orang kaya. Ketika mereka bertamu bukannya diterima dengan baik, malah mereka diusir dan dimaki-maki. Si ibu tidak mengakui mereka beruda sebagai anaknya. Si ibu berkukuh tidak punya anak. Bahkan anak lelakinya ia siksa hingga berdarah-darah. Si anak meronta-ronta agar ibunya insyaf mengakui dirinya sebagai anaknya. Kemudian akan diajaknya si ibu pulang ke desa. Bagian ini panjang hingga terasa menyayat keadaan anak lelaki yang disiksa ibunya sendiri.

Saat diceritakan pada bapaknya di desa mengenai perjalanannya ke kota, si bapak nekat ke kota untuk mencari kebenaran informasi itu. Ternyata mereka bertiga—bapak dan dua anak—diusir dari istri dan ibu dari dua anak.

Cerita berakhir dengan laporan pembantu yang dulu menerima si istri yang dulu melamar jadi pembantu. Pembantu ini melaporkan pada majikan lakinya bahwa si istri ternyata telah berkeluarga sebelum kawin dengan majikan. Bahkan, si istri mengusir suami dan dua orang anaknya. Majikan laki ini dengan memegang prinsip ‘suami dan kedua anaknya saja disingkirkan, bukan mustahil suatu ketika aku dan seorang anakku diusir’. Majikan ini akhirnya mengusir istrinya.

Apa yang menarik dari lakon ini adalah cerita yang berlarat-larat tentang seorang perempuan setengah baya tidak sabar dengan kemiskinannya. Ia pergi ke kota dan setelah menipu calon suaminya dan berhasil menikah dengan duda kaya, ia melupakan semua asal-usulnya. Dalam lakon dikisahkan ia mengusir dengan kasar dan sempat melukai anaknya. Sikap durhaka ini mendapat balasan setimpal. Si perempuan diceraikan dan hanya diperbolehkan membawa barang ketika ia dulu tiba di rumah itu bak seorang pengemis.

Kisah “Kaca Beracun” dilakonkan oleh kelompok lenong Putera Betawi di depan penonton penduduk Betawi pinggiran di Tanggerang Selatan, Banten. Semenjak selepas waktu isya’ penonton memenuhi area lapangan. Mereka duduk mengelesot di atas rumput. Kebanyakan mereka menggelar tikar bersama keluarga atau tetangga dekat. Di antaranya, terutama anak-anak, tampak tidur lelap.

Lapangan itu berada di antara persawahan yang di sana-sini mulai dibangun rumah-rumah penduduk. Penduduk Betawi di sini rata-rata bekerja sebagai petani, buruh tani, sopir, tukang ojek, buruh bangunan, pedagang di pasar, dan lain-lain. Dengan kata lain, penduduk mayoritas Betawi ini berasal dari kalangan rakyat jelata. Wawasan mereka dapat dikatakan kurang lebih sama di antara para penonton.

Penonton ini kerap menyoraki tokoh istri durhaka dan pembantu lelaki yang memaki-maki si istri durhaka karena pengkhianatan yang ia lakukan. Dalam sorakannya tampak mereka membela atau menolak tokoh-tokoh yang memainkan karakter itu. Tidak sedikit penonton perempuan yang beranjak tua mengomentari permainan di atas panggung. Tampak rambut mereka banyak yang telah memutih. Rona muka mereka ceria dengan perjalanan pertunjukan di atas panggung. Mereka tidak terlalu soal dengan adegan yang seronok dengan guyonan seks yang kasar dan verbal. Tak ada yang merisaukan tontonan semacam itu.

Pertunjukan si istri durhaka ini terjadi jam 1 hingga 2.30 dini hari. Dengan pergantian layar berupa lukisan sederhana yang ditarik oleh salah satu anggota grup lenong, panggung berubah antara suasana kota dan desa. Malam kian larut. Sebagian penonton memang beranjak dari lapangan. Yang tersisa bisa dikatakan penonton fanatik. Tampak wajah-wajah penonton tua bertahan, sebagian penonton muda berada di atas jok sepeda motor, agak jauh dari panggung, di sudut yang gelap.

Pertunjukan lenong yang berlangsung hingga dini hari ini cukup mengesankan. Di waktu dini hari—waktu yang secara tradisional—diyakini waktu yang “bersih” dalam siklus sehari-semalam. Waktu dini hari dalam keyakinan masyarakat tradisional waktu yang tepat untuk memanjatkan do’a kepada yang Kuasa. Pada siklus waktu yang “bersih” ini lakon lenong  menampilkan pembalasan istri/ibu durhaka karena silau melihat harta benda. Istri/ibu yang tak mampu hidup dalam  kondisi miskin tetapi damai, penuh kerukunan.

Sementara itu, masyarakat Betawi di pinggiran Tanggerang Selatan ini adalah mereka yang semenjak kecil telah mengenal dengan baik pertunjukan Lenong Betawi. Penonton yang sebagian Betawi mengenal dengan baik  grup lenong terbaik yang ada saat itu ataupun grup terbaik yang pernah ada. Tahu siapa panjak yang menarik hatinya ketika muncul di atas panggung membawakan karakter tertentu. Tahu dengan baik lakon-lakon apa yang menarik dipertunjukkan. Dalam istilah  teknisnya, penonton ini tidak lain adalah masyarakat pemilik dari kesenian lenong.
Sehingga ketika pada dini hari ceritanya berlarat-larat dalam adegan si istri/ibu durhaka kepada anak maupun suaminya, bukan sebuah klise dalam pandangan penonton Betawi yang tinggal di sekitar diselenggarakan pertunjukan. Justru adegan ini dibuat berlarut-larut hingga memunculkan adegan yang demikian detail tentang kedurhakaan si ibu/istri di satu pihak dan penderitaan si suami/anak di pihak lain.

Dengan membuat adegan tersebut sedemikian rinci, memunculkan efek pada kontras yang nyata antara kebaikan dan kejahatan. Pertunjukan tidak terlalu memperhatikan dalam bagaimana tokoh meraih impiannya. Pertunjukan lebih fokus pada apa yang dialami setelah impian itu tergapai. Sikap durhaka yang berlarut-larut dan siksaan yang berlarat-larat menjadi puncak dari maksud pertunjukan lenong itu. Lakon ini seperti hendak menciptakan situasi ekstase pada penonton pada dini hari sebagai siklus waktu yang bersih sepanjang siang-malam. Dalam situasi “ekstase” tersebut penonton diyakinkan bahwa kebaikan pastilah mengalahkan kejahatan. Sekalipun, penonton tahu secara instingtif bahwa kebaikan mengalahkan kejahatan pasti terjadi di akhir lakon. Namun, penonton lenong Betawi tidak mempersoalkannya sebagaimana penonton seni modern  yang tergila-gila pada cerita yang menggantung.

Situasi semacam ini dapat ditemui pada pertunjukan wayang kulit di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Setelah babak manyura dan gara-gara antara jam 24-1 malam akan disusul babak pertarungan yang benar akan mengalahkan kejahatan. Kalangan Pandawa akan membawa kemenangan atas kejahatan yang dilakukan oleh kalangan Kurawa. Di ujung malam ini yang secara tradisional di Jawa waktu yang “bersih” diturunkan semacam ajaran, kawruh, kebijaksanaan, mengenai kearifan tentang kebenaran dan kejahatan. Dalam seni modern, penyelesaian kisah semacam ini akan dengan cepat disebut klise. Menciptakan jalan cerita yang sudah diketahui sebelumnya.

Dalam seni tradisi seperti pada Lenong Betawi pertunjukan bermakna dalam konteks masyarakat pendukungnya. Di sini konteks dalam seni tradisi sangat penting. Tanpanya, sebuah pertunjukan seni tradisi seperti Lenong Betawi tidak akan memiliki makna. Seperti halnya wayang kulit bagi orang Jawa dan wayang golek bagi orang Sunda.

Pertunjukan Lenong Betawi pastilah hambar bila dilaksanakan pada siang hari di dalam gedung yang ditonton para karyawan kantoran pada acara, misalnya, akhir tahunan perusahaan. Disebut hambar lantaran waktunya tidak mendukung adanya kisah merasuk dalam hati, penontonnya cenderung berpendidikan menengah-tinggi, kehidupannya cukup, mayoritas bukan orang Betawi, tidak mengenal masa panen seperti yang dialami sebagian besar penonton di Tanggerang Selatan itu.

Dengan kata lain, ada jarak antara penonton dengan apa yang ditontonnya. Penonton bukan bagian dari masyarakat pemilik Lenong Betawi. Barangkali mereka bisa mengikuti jalannya pertunjukan. Tetapi bisa dipastikan persepsinya tidak akan sedalam penonton pertunjukan di lapangan pinggiran desa dekat persawahan menjelang subuh di Tanggerang dalam rangka perayaan acara perkawinan itu.***

Penulis: Imam Muhtarom, anggota Asosiasi Tradisi Lisan.

Terbit di Koran Tempo, Senin, 8 Juni 2015


0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

.

.

Translate

PageRank