Tatapan Mata Anjing Itu



Cerpen Imam Muhtarom

AKU sangat berharap lelaki itu datang tepat ketika aku sudah duduk di kursiku. Lelaki itu sangat kubenci. Perawakannya yang menyebalkan seperti merasuk dalam benakku. Kami ingin memukulnya saja bila ada kesempatan. Tetapi sulit sekali kesempatan itu datang. Justru lelaki itu yang sesungguhnya memiliki kesempatan untuk membuat diriku terpelanting dari dudukku selama ini. Lelaki itu bisa saja mengambil alasan bahwa aku tidak becus bekerja dengan bukti-bukti yang selama ini kulakukan. Aku selalu waswas dengan pikiranku selama ini.
Aku seperti dalam kurungan yang tak mungkin bisa keluar. Aku berniat ketika lelaki anjing itu datang aku tidak sungkan-sungkan mengambil apa saja yang keras didekatku langsung kupukulkan ke kepalanya. Aku sangat puas sekali bila itu akan terjadi. Aku tunggu di sebuah jalan sempit yang mengantarnya ke kantor menuju jalan besar biasanya dia datang-pulang kantor. Tetapi tak apa-apa. Aku memang harus sabar dengan rencanaku ini.
”Pagi,” sapa lelaki itu begitu ia duduk ketika ia baru saja tiba pagi itu.
”Pagi juga,” timpalku sekenanya. Aku tidak berusaha menatap sedikit pun bagian dari tubuhnya. Aku hanya mendengar suaranya, langkah kakinya, kursinya ditarik, dan suara tombol komputer ditekan. Suara mendengung dari bunyi komputernya.
Aku tahu lelaki ini pasti telah berbuat kurang ajar pagi ini. Ia pasti bangun kesiangan, buru-buru naik angkutan, dan pasti matanya melotot kesana-kemari ketika ruang sempit angkutan membuatnya harus berdesak-desakan. Lelaki itu pasti tidak pernah berusaha mengerem kebenciannya kepada siapa pun yang dengan sengaja atau tidak membuatnya terganggu.
Dua hari yang lalu aku mendengar dari teman kantor yang lain asal lelaki ini. Aku langsung puas bahwa dia berasal dari kota kecil yang jauh dari beradab. Apa yang bisa dilakukan lelaki tanpa punya sejarah besar seperti daerahku berasal. Ia pasti minder masa kecilnya dan pasti berasal dari keluarga miskin sekali. Karena itu ia akan menyingkirkan siapa pun orang yang akan membuatnya tersingkir dari kursi kantornya. Aku pikir lelaki minder di seluruh jagat ini selalu bersikap seperti itu.
Aku berusaha tidak melihat orang itu setiap hari meskipun bersama dalam satu kantor. Aku selalu menghindar. Jika tidak terpaksa seperti dalam rapat atau memang harus berhubungan, aku sama sekali tidak mau berurusan dengan lelaki yang bagiku seperti anjing itu.
Ya, mulutnya persis mulut anjing. Giginya putih dan bedanya tidak mengeluarkan liur yang menetes-netes. Tapi liur itu akan menetes juga bila ia kuajak berlari sambil di tanganku memegang pedang putih yang hendak menyembelih lehernya. Aku benci sekali dengan warna bajunya yang terkesan kusam dan aku tahu benar bahwa gaji satu bulannya bisa untuk membeli sepeda motor baru. Aku rasa hanya untuk mengingatkan bahwa dirinya sebenarnya berasal dari warga miskin sekali dan bodoh. Aku percaya sekali alasan ini yang sebenarnya mengapa ia memilih pakaian dan peralatan yang sederhana. Kecuali, ya, kecuali dengan kendaraannya dan laptop yang ditentengnya setiap hari itu. Ia suka menciptakan kontras dari pandangan orang terhadap dirinya. Ia sederhana, sok miskin, tetapi ia sebenarnya orang kaya. Orang di atas rata-rata warga masyarakat Indonesia.
Ia puas sekali membikin orang terkejut dan selanjutnya orang tersebut terkagum-kagum dengan kesederhanaannya itu tersimpan keluarbiasaan yang setiap orang tidak akan bisa mencapainya. Alangkah kurang ajar pikiran orang ini. Alangkah baiknya tidak banyak berpikir mengenai pandangan orang lain kecuali berbuat baik kepada orang lain.
Bukankah itu yang sesungguhnya dibutuhkan orang daripada membuat orang terkejut dan merasa tertipu dengan anggapan pertamanya?
Setelah orang terkagum-kagum baru kemudian ia akan berkata-kata yang intinya ia mempromosikan siapa dirinya sesungguhnya. Aku benci orang yang butuh pengakuan dengan cara-cara yang membuat orang lain harus tertunduk-tunduk.
Aku lebih suka orang seperti itu sebelum bicara dipukul mulutnya di hadapan orang banyak, darah berlumuran di kemejanya yang putih kusam itu, lalu jatuh tersungkur ke lantai. Tak ada yang perlu menolongnya kecuali setan yang membela orang-orang munafik. Ya, munafik orang itu. Dan orang munafik sesungguhnya orang yang layak dibunuh.
Tapi kapan orang seperti itu mati terbunuh mengenaskan? Aku sendiri tidak tahu. Aku sendiri selalu gagal mendapat waktu yang tepat untuk melayangkan sekepal batu ke kepalanya yang berambut sama sekali tidak pas dengan bentuk mukanya itu. Aku ingin ia mati sebelum ia akan merugikan orang banyak.
Hari itu aku pulang lebih cepat. Posisi dudukku yang tidak jauh dari pintu keluar membuatkau tidak perlu berbasa-basi dengan teman-teman kantor yang lain. Aku segera menyelinap di antara pintu, tangga, dan gerbang depan. Aku berlari kecil seolah ada sesuatu yang penting. Karena itu orang yang melihatku dan kebetulan mengenalku bahwa aku sedang ada urusan penting keluarga.
Aku bayangkan aku tidak akan mendapat sorotan apa pun. Tetapi aku berharap tidak akan ada orang yang melihatku sore itu mengenalku. Aku segera menyelinap di gang sempit menuju jalan besar di ujung selatan. Jalan besar itu tempat lalu lintas ramai dan banyak angkutan kota yang mengirimkan ke bus-bus di ujung Jalan Matraman.
 Aku harap cuaca tidak hujan tetapi cukup dengan mendung tebal. Aku kenakan tasku di bagian depan dengan berdiri di balik bak sampah besar di tengah gang itu. Sampah ini sesunggunya terlalu besar untuk kebutuhan warga gang untuk membuang sampah-sampahnya. Tetapi bagiku saat ini terasa sangat bermanfaat bagiku. Aku sangat berterima kasih dengan orang yang memiliki ide awal dibangunnya tempat sampah ini dan kepada mereka yang telah bersusah payah membuatnya. Semoga mereka diberikan rezeki yang berlimpah dan anak cucunya dapat bersekolah setinggi-tingginya. Dengan adanya tempat sampah ini aku dengan enak mengintai lelaki itu begitu ia lewat di seberang sana. Aku harus cukup jeli bahwa orang yang lewat benar-benar lelaki itu.
Aku lihat arlojiku menunjukkan pukul 16.00 tepat. Aku tahu bahwa aku harus menunggu beberapa menit sampai ia lewat. Tetapi, wah, aku lupa, aku  belum memeriksa apakah di tempat parkir tadi ada mobil lelaki itu. Kenapa sampai aku terlupa memeriksa tempat parkir di pojok itu. Mobilnya yang berwarna merah akan mudah dikenali. Aku ingat tidak ada mobil warna merah di seberang parkir tadi. Tetapi aku tidak memastikan bahwa memang ia tidak memakai mobil hari ini tetapi naik angkot.
Ah, aku yakin tidak ada mobilnya. Gampang sekali untuk mengetahui apakah ia naik mobil atau tidak. Bukankah ia adalah pesolek munafik yang akan menunjukkan sisi kehidupannya dengan kontras mobil-pakain buduk, laptob baru-sepatu usang. Ah, dasar pesolek munafik. Rasakan batu ini di kepalamu hingga bocor darah ke mana-mana.
Lelaki itu harus tahu omongannya selama ini menyakiti semua orang, semua orang, termasuk aku. Kenapa kau mengambil batu hendak memukulkan ke kepalanya, karena orang lain sesungguhnya  hendak melakukannya tetapi tidak mampu lantaran pengecut. Aku tahu kambing semua rekan-rekan kerjaku itu. Mereka ingin memukul sampai hancur dan darah meluncur dari kepalanya, tetapi semua itu hanya dalam doanya masing-masing. Mereka takut berhadapan langsung. Mereka takut akan membuat hidupnya gelisah membuat masalah dengan lelaki itu.
Aku tahu sekali dari pembicaraan pada saat makan siang bareng-bareng. Sesungguhnya aku jarang mengikuti acara makan seperti itu. Aku tahu mereka berencana melemparkan batu beramai-ramai atau sendirian, tetapi mereka memilih diam dan berdoa supaya lelaki itu cepat terjatuh dan cacat seumur hidup. Dan mereka akan mengatakan, ”Wah kasihan anak istrinya.” Mereka akan mendatangi rumahnya dengn memberi santunan secukupnya seperti selama ini terjadi tetapi dalam hati mereka mengumpat, ”Mati saja kau!”
Yah, aku tidak bisa berkomplot dengan kabing-kambing semacam itu. Lebih baik aku melakukan sendiri rencanaku ini. Aku genggam kuat-kuat batu sebesar kepalan tanganku. Tidak besar memang. Tetapi batu ini cukup berisi dan bentuknya yang tidak bundar melainkan batu yang dibelah aku yakin akan segera membuat batok kepala siapa pun akan bocor, terutama batok kepala orang pesolek munafik itu.
Aku tunggu lelaki itu lewat di tengah gang kecil ini. Aku harus memastikan bahwa ia yang berkepal benjol, rambut kusam beserta semua seragamnya, tetapi dengan tas yang bagus di punggunnya dan lebih bagus lagi tas yang di pundaknya sebelah kiri atau kanan. Nah itulah barang yang ingin ditunjukkan kepada siapa pun bahwa ia lelaki sederhana tetapi berhasil. Ia yang dulunya miskin sekarang cukup kaya dengan gaji besar.
 Aku tunggu kapan ia melintas. Nah itu dia, bukan, pakaiannya tidak putih kali ini. Dalam rapat tadi ia menggunakan pakain batik. Ya, batik cokelat kusam. Aku yakin ia tidak tahu makna batik ketika semua karyawam memakainya. Mungkin saja ia hanya ikut-ikutan saja. Bukankah ia hanya berkepentingan menjaga kontras yang cukup memalukan itu saja.
Nah, itu lelaki  pesolek munafik yang kutunggu-tunggu. Dengan cepat batu yang terkepal lama di genggamanku melesat ke kepalanya. Kena! Lelaki itu memegangi kepalanya dengan mengaduh kesakitan sebelum kemudian dia terjatuh di gang sempit itu. Aku langsung mengambil jalan melingkar ke arah yang berlawanan dengan posisi lelaki itu. Aku melangkah dengan langkah tidak terburu, juga tidak pelan. Aku tatap jalanku seperti karyawan kantor di muka bumi ini. Muka lelah, badan capek seolah ia baru saja mendapat perlakuan paling buruk seumur hidupnya.
Aku menjauh sebisa mungkin dari tempat biasanya aku naik angkutan umum. Aku naik taksi dengan jalan yang kemungkinan tidak ditempuh oleh semua orang kantorku. Aku mengumpat dalam hati, kenapa aku harus selalu menghadapi macet dalam kondisi aku harus secepatnya sampai di rumah. Aku ingin cepat mandi, makan malam, dan tertawa dalam hati bahwa aku telah melakukan tindakan paling terpuji di dunia ini. Aku telah membuat pesolek munafik itu beberapa hari ke depan tidak mengotori dunia. Aku tersenyum. Aku lihat mukaku di cermin kamar mandiku terasa sangat lain. Ada keberanian yang tiba-tiba menyelimuti.
Aku duduk beberapa waktu sambil memastikan bahwa ponselku tetap hidup. Siapa tahu ada kawan sekantor yang tiba-tiba menghubungiku: bahwa lelaki itu telah masuk rumah sakit! Ah betapa menang aku! Betapa terpuaskan hatiku ini! Selain itu, aku bisa berkilah dengan mengatakan ikut bersedih dengan peristiwa yang menimpa lelaki itu.
Akan aku katakan bahwa siapa pun yang melemparkan batu dengan kesengajaan penuh mesti mendapat hukuman yang setimpal. Bahagianya aku! Aku akan memasang wajah paling sedih bila esok mendengar bahwa lelaki itu tidak masuk dan saat itu telah dirawat di rumah sakit. Ada indikasi ia gegar otak. Wah!!!
Tetapi sampai malam aku tidak mendapatkan ponselku berbunyi sedikitpun. Aku jengkel sekali karena ada pesan singkat aku mendapat hadiah jutaan rupiah, tetapi ketika aku periksa lebih teliti rupanya para penipu berkedok panitia sayembara undian berhadiah. Aku balas pesan singkat: lelaki pesolek minafik!
Esoknya aku berangkat seperti biasa dengan pakaian biasa dan datang paling pagi di antara rekan-rekan kantorku. Aku mendapati semua seperti hari-hari sebelumnya, walaupun perasanku agak peka dan ada semangat menjalar di benakku untuk bekerja lebih semangat satu hari ini dan hari-hari selanjutnya. Aku buka layar komputerku dengan sangat tenang. Aku buka files pekerjaanku yang terbengkelai beberapa hari ini lantaran lelaki itu.
Kini aku periksa perlahan-lahan walaupun ada kewaspadaan dengan pernyataan  pertama yang akan kudengar dari sekretaris kantor. Ia biasanya akan memberitahu karyawan kantor yang pertama kali datang tentang keadaan rekan kantor lain tentang peristiwa yang menimpanya. Entah pernikahan atau kematian dari pihak keluarga.
Tetapi beberapa waktu ketika rekan-rekan kantorku telah hadir semua kecuali lelaki itu, tidak ada secuil pun pernyataan dari mulut basah sekretaris kantor. Malah yang kudapatkan si sekretaris itu menyapaku dengan manis. Bibirnya yang berlipstik merah muda yang basah itu mengundangku untuk merenggutnya. Tetapi tidak. Aku hanya mengumpat dalam hati.
Aku menyesal sekali telah menunggu si sekretaris itu mengucap kata-kata yang sangat kutunggu, tetapi nyatanya bertolak belakang dari yang kuharapkan.
Justru siang harinya aku mendapat kabar dari bosku bahwa lelaki itu telah meninggal di rumah sakit. Ia mengatakan telah terjadi kecelakaan lalu lintas sehingga batok kepalanya retak. Telah diupayakan oleh pihak rumah sakit, tetapi tampaknya kemampuan dari rumah sakit itu terbatas. Si lelaki itu juga dideteksi lemah jantung sehingga kecelakaan itu membuatnya sakitnya semakin parah hingga ia sendiri tidak bisa diselamatkan. Aku terkesima mendengar semua itu.
Rekan-rekan kantor berkemas dengan tergesa untuk segera melayat ke rumah duka lelaki itu. Aku ikut dalam rombongan terakhir. Aku diam sepanjang perjalanan ketika rekan-rekanku yang lain mengatakan kasihan keluarganya. Anak-anaknya siapa yang akan mengurusi setelah istrinya sakit-sakitan karena serangan tekanan darah tinggi hingga membuat sekujur tubuhnya lumpuh.
Aku ikut melihat pemandian jenazah lelaki yang kubenci setengah mati itu. Aku melirik wajahnya yang putih dan sebelum ditutup oleh sanak familinya, aku sempat melihat matanya seolah menatapku. Aku melihat matanya lurus menatapku. Aku tak kuasa melihat sorotan matanya. Buru-buru aku segera menghindar dengan alasan mencari kamar mandi. Aku basuh mukaku dengan air sampai lama, aku harapkan ada kesegaran dalam mukaku dan isi kepalaku setelah itu. Tetapi aku merasakan bahwa badanku tak terasa tersungkur di lantai kamar mandi.
Sorenya aku sudah terbujur di kamar rumahku. Dokter mengatakan bahwa kau harus beristirahat agak lama karena tekanan jantungku naik drastis. Sangat berbahaya, kata dokter. Aku mengiyakan ucapan dokter meskipun yang ada dalam benakku adalah tatapan mata lelaki pesolek munafik itu.()

Jakarta, 2009


Suara Merdeka, 14 Juni 2009

0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate