PELUANG KRITIK SENI URBAN


Pencarian ekspresi  seni rupa dalam pengalaman manusia urban telah mendapatkan perluasannya. Perluasan yang dimaksud tidak lain ingin menekankan pengalaman sosial yang beragam dan demikian kompleksnya persoalan. Masalah politik dan ekonomi di satu pihak, telah memengaruhi sosial-budaya pada pihak lain. Sirkulasi ekonomi dan berbagai keputusan politik di tingkat pemerintahan, membentuk beragam keputusan-keputusan di sektor swasta. Keputusan-keputusan tersebut membawa pengaruh pula pada keputusan kelompok-kelompok sosial dan individu di kalangan penghuni kota. Pertukaran dan pola-pola antisipasi kedua pihak, secara langsung menyusun wajah perkotaan.

Perilaku korupsi, penempatan bangunan mall, kemacetan, industri hiburan, mitos yang berkembang, kekerasan, kemiskinan adalah serangkaian jalinan antara keputusan sektor pemerintahan, sektor swasta, kelompok sosial, dan individu penghuni kota. Tarikan dan dorongan antara kedua belah pihak ini menghasilkan ruang yang menjadi alam pikiran warga kota. Alam pikiran ini tidak lain hasil persilangan berbagai kepentingan di antara lembaga dan para penghuni kota. Dengan kata lain, telah terjadi institusionalisasi dalam kehidupan kota sehingga muncul kekhasan dalam hidup masyarakat kota itu.

Dalam model peruangan—spasialisasi—kota memungkinkan bentuk-bentuk khas ekspresi seni, khususnya seni rupa. Konteks kota telah membawa konsekuensi cara hidup, cara berpikir, dan tentu dalam kreasi seni dapat ditemukan ekspresinya. Seni rupa yang lahir dengan pertimbangan konteks kota salah satunya terwakili dalam mural. Mural yang biasa disebut seni jalanan ini, menjadi bagian yang relevan dari kehidupan warga kota. Karya seni rupa sebagai respon sekaligus direspon oleh jenis sosial masyarakat kota.

Untuk itulah, pameran seni rupa Breakin the Wall dengan kurator Bambang Asrini Widjanarko di pelataran Teater Jakarta (8-18 Desember 2010) merupakan hasil penyikapan ruang terbuka tersebut. Pelataran Teater Jakarta di kompleks Taman Ismail Marzuki ditanggapi dengan mural di dinding pembatas yang melingkar di seberang Teater Jakarta. Kemudian di bawah pohon berjenis beringin besar disusun instalasi, ubin pelataran yang menghampar dijadikan tempat 3 lukisan ilusionis, dan bagian penyangga atap Teater Jakarta diikatkan balon berwarna-warni.

Pelataran yang luas menghampar ini tidak lain “galeri” terbuka, yang bisa diolah untuk pameran. Ruang yang biasanya pasif dan berfungsi sebagai bagian bangunan Teater Juwes dimanfaatkan sehingga memberi kesan aktif, hidup, partisipatif dengan lingkungannya. Karakter partisipatif ini memang bukan persoalan mudah dalam penggarapannya. Kejelian si seniman atas medium yang digunakan dan ruang fisik maupun sosial itu sendiri, menjadi bagian yang mesti dipertimbangkan. Ada dialog yang dibangun sehingga antara karya dan posisinya dalam ruang sosial itu menjadi terkait sekaligus bermakna.

Misal mural berjudul “One Nation Under Sinetron” karya kelompok Popo n Kampung Segart yang tampak di sepanjang 100 meteran tembok pembatas. Mural itu berupa cat hitam di atas tembok putih besih. Ini berupa komentar-komentar seputar opera sabun di televisi yang begitu mendominasi. Begitu dominannya menjejali ruang-ruang privat hingga muncul ironi atas operas sabun itu. Barangkali sinetron-sinetron telah menjadi objek penyusunan imajinasi bersama yang membangun “nation”. Ada perasaan yang sama, sensasi sejenis, dan harapan yang sebangun atas sinetron itu. Sinetron telah menerobos sekat yang terjadi dalam tubuh masyarakat kota dan menautkannya sedemikian rupa sekalipun mereka tidak kenal apalagi berinteraksi satu sama lain. Ironi inilah yang menjadi titik awal karya.

Sementara karya intalasi berbentuk balon yang berjudul “Go Go Bam!” menyodorkan bentuk-bentuk gendut, komikal, dan penuh warna. Karya ini barangkali tidak hendak merepresentasikan gagasan atau peristiwa dalam ranah sosial atau politik. Karya ini lebih sebuah permainan dan pengambilan bentuk yang berbeda dari kecenderungan bangunan kota yang penuh sudut, fungsional dan bersifat rigid. Balon yang mengambang di udara, membentuk kepala tersenyun serta inoncence. Apalagi pemasangannya di beton penyangga atap. Sifat rigid, tetap, serta maskulin ini mendapat kontras yang tajam dari balon-balon. Sifat kekanak-kanakan dari karya balon ini menimbulkan sifat ramah, komikal, dan pada saat yang sama mengajak sikap santai. Bentuk simetris bangunan mendapat tanggapan bentuk asimetris.

Dalam bentuk lain, kelompok Atap Alis dengan karya “Koma” menghadirkan mainan dari barang-barang bekas berupa botol plastik dan diolah menjadi tank, mobil bersenjata, senapan. Objek-objek militer ditata dibawah sejenis pohon beringin sehingga memenuhi ruang terbuka di bawahnya. Pengolahan dari sampah plastik menjadi objek mesin bersenjata dan ditata di bawah pohon sejenis beringin, membawa suasana lain. Pohon yang tumbuh di kota biasanya memberi keteduhan dalam karya ini diubah sebaliknya. Ada ancaman yang tidak terduga dari kondisi nyaman sebuah kota. Kota dengan aparat militer yang mengelilingi Jakarta, bukan tidak mungkin suatu kali kembali aktif seperti kejadian 1998. Kekekerasan sistematis tidak berarti hilang, barangkali saat ini masih bekerja di bawah tanah.

Sementara pelataran yang datar dan menghampar luas ditanggapi oleh lukisan ilusi. Pelataran yang luas dan horisontal ini “disulap” oleh tiga karya. Apa yang pasif, datar, dan tampak tenang dihidupkan dengan bentangan lukisan ilusif. Ada tokoh Gayus yang saat ini menjadi ikon megakorupsi di sektor perpajakan. Gayus dalam ukuran 7x4 meter ini hidup dan dalam topi santa tersenyum. Lukisan “Berlagak Santa” karya kelompok IKJ’s Action Painting berhasil menghadirkan sisi ilusifnya. Sekalipun lukisan, tapi dengan teknik tertentu karya ini serasa tiga dimensi. Di sebelahnya terdapat sosok yang menjadi mitos masyarakat lerang Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Lukisan berjudul “In Maridjan We Trust” karya kelompok Lintas melawai digambarkan sebagai sosok berfisik kuat, otot-ototnya menonjol terlihat tengah bangkit dari kedalaman magma Merapi.

Ruang di pelataran Teater Jakarta yang tampak biasa diadaptasi sehingga berkarakter lain. Ke-6 karya yang dipamerkan tidak cuma bertujuan mendinamiskan ruang fisik maupun sosial pelataran Teater Jakarta, tetapi yang juga penting menyampaikan pesan atas segenap masalah yang tak tuntas di kota tersebut. Pengunjung yang datang hendak menikmati tontonan di gedung baru nan megah itu, dihadapkan pada karya-karya unik sekaligus mengingatkan ada yang belum beres dalam kehidupan di kota mereka.***

Imam Muhtarom, pemerhati seni rupa.

Terbit di Harian Jawa Pos, 26 Desember 2010

1 comments:

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate