Hasrat, Kota, dan Sustainable of Arts


oleh Imam Muhtarom*)
Hari ini hasrat sudah menjadi penjelas apakah suatu kondisi perekonomian pada teritorial tertentu disebut memiliki prospek atau tidak. Tatkala permintaan akan suatu barang demikian tinggi, secara ekonomi akan dijawab sebagai sebuah indikator yang bagus. Begitu pun sebaliknya. Persoalan dasarnya, apakah barang yang dikonsumsi itu berguna atau sekadar pemuas hasrat belaka?
Tentu, ekonom tidak berurusan dengan pertanyaan semacam itu. Namun, pertanyaan itu menjadi penting ketika seseorang begitu tergantung pada jenis merek minuman tertentu, merek pakaian tertentu, jenis shampo tertentu, tas produk negeri tertentu. Gaya hidup menjadi lebih penting dari hidup itu sendiri. Gaya hidup ini tidak hanya milik golongan tertentu, namun telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia kota. Perbedaannya hanya pada bentuk pemuasannya, bukan pada intensitasnya.


Karya Tisna Sanjaya yang didisplai dalam pameran seni rupa "Sin City" di Galeri Nasional Indonesia, awal hingga pertengahan April lalu. (foto: imam muhtarom)


Apa yang terabaikan dari praktik konsumerisme ini adalah berapa banyak sumber daya alam yang disedot untuk hasrat yang tak akan terpuaskan ini? Sesungguhnya, sebagian besar temuan di bidang industri dan teknologi canggih dari sarjana-sarjana unggul, hanya untuk menjawab atas tidak terjawabnya pertanyaan: sejauh apa hasrat bisa terpuaskan?
Seni rupa semenjak 1990-an sudah menjawab teka-teki hasrat ini lewat karya Takashi Murakami atau Jeff Koons. Karya-karya mereka merepresentasikan kecenderungan budaya konsumerisme dunia saat ini lewat bentuk-bentuk karya 3 dimensi maupun 2 dimensi yang komikal dan seakan tiada peduli untuk apa sebuah karya seni rupa diciptakan. Sifat kontemporer dari karya-karya mereka tidak lain dari moda konsumerisme yang tidak berujung sebagai penanda kemenangan kapitalisme setelah berakhirnya komunisme bersamaan dengan jatuhnya Uni Soviet pada 1989.
Namun, kesadaran akan terbatasnya sekaligus risiko kehancuran bumi, memberikan gagasan kuat akan pentingnya keberlanjutan. Keberlanjutan kehidupan tidak terjawab hanya ketika seseorang membuang sampah di tempat sampah atau lebih menggunakan angkutan umum daripada angkutan pribadi. Keberlanjutan kehidupan selain tecermin lewat perilaku, ia juga hasil dari suatu rumusan yang menjalar dalam semua aspek kehidupan. Gagasan keberlanjutan dalam seni (sustainable of arts) tidak lain reaksi atas karakter merusak yang dibawa oleh modernisme.
Kegelisahan atas karakter merusak ini tampak jelas dari karya instalasi Tisna Sanjaya, “Panen Plastik dan Beras”. Karya ini tidak indah, bahkan bisa dibilang buruk jika keindahan itu berarti kecemerlangan bentuk, rapi dari sisi penggarapan, bahan yang bagus, lantas sedap dipandang mata. Karya Tisna berupa hasil bakaran plastik di tengah lorong sebanyak lima kuali besi, rajangan berbagai jenis plastik dalam 14 kotak kayu di samping kanan-kiri tembok, lembaran-lembaran sarung dipajang di kanan-kiri tembok, dan sebuah lukisan abstrak di atas kain spanduk yang ditempatkan di ujung lorong seluas 20x5 meter persegi dengan tulisan di tengahnya: etsa jangan kau kotori susu ibu.
Rupanya, bahan instalasinya berasal dari pemrosesan plastik di daerah Cigondewah, di pinggiran Kota Bandung. Tisna bersama warga mengolah sampah-sampah plastik diolah dan dibakar lalu dijual. Daerah Cigondewah sendiri dulunya berupa sawah yang subur, namun kini menjadi kawasan pabrik yang penuh sampah dan masyarakat sekitar terserap kehidupannya sebagai buruh pabrik. Instalasi karya Tisna berkisah mengenai perubahan dari lingkungan agraris ke lingkungan industri. Karya ini bercerita banyak dari berbagai plastik dan sarung. Perubahan perilaku lantaran berubahnya kosmologi yang menyertai dengan perubahan material yang mengelilingnya sebagai sarana masyarakat hidup.
Plastik sebagai komponen yang paling banyak digunakan dalam kegiatan manusia sehari-hari kota telah mengubah fisik dan lingkungan sosial tertentu. Plastik menjadi penanda peradapan kota yang begitu dibutuhkan singkat tetapi menjadi masalah serius begitu memerlukan ratusan tahun agar bisa diurai alam.
Ironi akan konsumerisme ini muncul dalam video art “Heaven at The Mouth of The River”karya Made Wianta. Karya berdurasi 10 menit ini bercerita BH yang dibeli di sebuah toko lalu hanyut di sungai dan berhenti di muara bersama sampah-sampah lainnya. Karya ini menghadirkan riwayat sebuah barang yang digunakan dan berakhir sebagai sampah. Alangkah singkat dan mengenaskan nasib sebuah produk yang awalnya diagung-agungkan lantaran mereknya?
Residu dari konsumerisme manusia kota tidak saja hadir dalam bentuk barang yang konkrit, tetapi juga imaji yang diproduksi oleh media televisi, internet, suara. Memang residu—sampah—imaji ini tidak mengganggu secara fisik, namun residu ini memenuhi memori, menyusun lanskap sebuah dunia dari berita matinya seorang siswa di sekolah pemerintahan lantaran kekerasan, video seks yang dipenuhi kekerasan. Uniknya karya ini merupakan paduan antara gambar video yang ditembakkan ke layar, yang mana di depan layar berdiri dua patung bocah laki dan perempuan dalam balutan warna putih. Gambar video yang ditembakkan ke layar berkolaborasi secara akurat dan fungsional. Karya itu berjudul “To Control or to be Controlled” oleh perupa muda Amalia Kartika Sari.
Jika karya Tisna Sanjawa, Made Wianta, dan Amalia, mempersoalkan mendasar dampak residu dari peradapan kota (modernisme), beberapa karya dalam pameran ini terlihat berupaya berdamai sebagai satu pilihan. Karya-karya itu tidak menolak sebagian atau keseluruhan, tetapi menerima dengan cara mengambil sampah-sampah itu dan “menyulapnya” agar sampah-sampah itu terlihat manusiawi. Tidak kentara apakah sampah-sampah itu menjadi tampak manusiawi lantaran diubah wujudnya, atau naluri manusia sebagai penciptanya berhasil menyulapnya. Karya instalasi dari Komunitas Atap Alis berjudul“Metamorphosis” menunjukkan bagaimana benda-benda dari plastik tak berguna berubah wujud menjadi sekawanan hewan, kepala manusia penuh warna, sebuah drum menjadi bentuk yang cantik. Hal  ini terlihat juga pada karya Ismanto Wahyudi yang berjudul “Chapter 33”. Dengan memanfaatkan sampah perangkat komputer berupa tombol papan ketik, berbagai jenis komponen elektronik komputer, yang ditata di atas papan dan membentuk wujud paru. Karya ini membangun kontradiksi dengan mengatakan paru bagian kehidupan lewat susunan benda-benda mati.
Gagasan untuk berdamai di tengah menguatnya berbagai benda dan merek, secara eksplisit disampaikan lewat lukisan karya Dahlan Sofwandi. Wujud dua ekor burung dari susunan kaleng minuman coca-cola dan sprite sedang bertengger di sebuah dahan pohon. Memang ironis, satu pihak terpancar keriangan bahkan juga nyanyian pada wujud burung itu, tetapi pada pihak lain burung itu susunan lembaran kaleng sebuah produk minuman. 
Dari ke-31 karya dari 30 perupa yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia (GNI) Jakarta pada 8-17 April 2011 lalu, keseluruhannya mempersoalkan aspek kelangggengan kehidupan. Pameran bertajuk Sin City, An Exhibition of Sustainable Arts, memang tidak semua karya berhasil memprovokasi akan pentingnya gagasan kelanggengan dalam kehidupan. Namun, pameran dengan kurator Bambang Asrini Widjanarko ini rapi dalam penataannya dan mempertimbangkan kemampuan lukis, patung, instalasi, multimedia, etching, grafis sebagai sarana untuk mengekspresikan sekaligus memprovokasi pengunjung akan arti kelanggengan kehidupan, terutama di kota.
Jika ke-30 karya menunjukkan di tingkat mikro bagaimana residu (sampah) kota mengubah kehidupan kota, karya Heri Dono beranjak dari yang makro. Kehancuran lingkungan oleh limbah yang dibuat manusia sendiri tidak lain berbagai keputusan yang berlatar pada kerakusan kapitalisme. Kerakusan kapitalisme itu terlihat pada negara-negara maju yang tidak segera menurunkan tingkat emisi masing-masing, justru mendukung gagasan moratorium hutan di lingkungan tropis. Negara kapitalis dunia yang arogan ini diangkat oleh Heri Dono lewat video art berjudul “Scapegoat Republik”. Heri Dono dalam video tersebut tengah berorasi di atas podium gambar  PBB tentang berbagai keculasan negara maju di depan hadirin para kambing. Selama 10 menit Heri Dono berapi-api pidatonya tidak peduli apakah kambing-kambing mengembik itu jengkel, kepanasan, atau kelaparan. ***


*) Pengamat seni rupa, tinggal di Surabaya.
Diunggah pada Sabtu, 30 April 2011 di situs: http://www.indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=223

Video art berjudul “To Control or to be Controlled” karya Amalia Kartika Sari

0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate