Catatan Jatim Biennale 2011

EKSPLORASI MEDIA BARU SENI RUPA                          

Gagasan mengenai medium penciptaan dalam seni rupa yang ditawarkan kurator Agus Kucink dan Syarifudin kepada para perupa dalam Jatim Biennale 2011, yang digelar di enam tempat di Surabaya, bukanlah gagasan yang baru saja muncul.  Gagasan terhadap pentingnya media sebagai alat penyampai gagasan lahir pada pertengahan abad ke-20.

Selain lukisan dan patung, seni rupa saat ini sudah akrab menggunakan media fotografi, video, performance, dan instalasi. Berbagai jenis medium tersebut tidak saja digunakan secara terpisah, tapi juga sudah sering dipraktekkan secara bersamaan sehingga menawarkan karya seni rupa yang demikian kompleks dan memberi pemahaman baru terhadap sebuah gagasan penciptaan dan suatu visi estetik yang lebih "maju".

Karya Agung Tato berjudul “Beautiful is Empty” merupakan salah satu yang berhasil menanggapi maksud ide kuratorial. Karya ini dipamerkan di Galeri AJBS, yang terletak di selatan Kota Surabaya. Jawa Timur. Karya Agung berukuran 3x2 meter dibagi dalam tiga panel dan instalasi di mukanya. Panel 1 dan 3 berupa lukisan. Adapun panel 2 berupa patung yang posisinya tampak belakang melesak ke dalam panel.

Lalu, persis di depan panel itu terdapat rumput plastik yang ditata membentuk sosok utuh manusia dan bertaburan kupu-kupu warna-warni dengan ketinggian bervariasi pada posisi menggantung di udara. Karya ini menempatkan kupu-kupu berkitar secara istimewa di antara sosok yang mewujud lewat tiga medium. Sosok seukuran manusia ini mewujud dalam kanvas dan patung. Karya tersebut memberi rasa, bahkan situasi yang berbeda, ketika tiga medium digunakan secara bersama-sama dalam kepaduan yang diperhitungkan, sekalipun objek rupanya sama.

Di galeri ini juga terpampang karya Keo Budi Harjanto berjudul “Infuse Series”. Karya ini berupa foto digital berukuran 100 x 174 sentimeter, yang dicetak pada jenis kertas hapnemuble dalam warna hitam-putih. Objeknya berupa tiga sosok yang ditutup. Seluruh badannya tertutup, kecuali jemari yang berkuku perempuan. Kemudian disampirkan lagi kain transparan serupa pengantin perempuan.

Di antara ketiga sosok berjajar itu, sosok yang di tengah menggunakan masker anti-zat kimia. Dalam samar kain transparan, sosok ini seolah makhluk alien bila kita mengamatinya dari dekat. Namun, bila diamati dari kejauhan, serupa tiga perempuan muslim dalam kerudung. Karya ini seakan menggambarkan sebuah kepasrahan.

Sebagai minoritas Tionghoa, perupa Keo berupaya mengungkapkan perlakuan rasial terhadap dirinya lewat karya ini. Walaupun cara pengambilan gambarnya sangat biasa, dengan mempertimbangkan efek kain ketika dikenakan kepada tiga sosok dan perhitungan gradasi warna hitam-putih, pesan dalam karya ini menjadi kuat.

Di Galeri Orasis, yang letaknya di barat Kota Surabaya, karya Jopram, yang menggabungkan lukisan, seni video, serta instalasi, adalah upaya serius dalam menanggapi konsep kuratorial. Karya berjudul ”Spirit to Build Up” seluruhnya menggunakan idiom-idiom kehidupan petani sawah. Ada gabah menghias dua meja memanjang di sisi kanan-kiri, jerami diikat, serta orang-orangan pengusir burung dalam buntalan kantong plastik pupuk berisi jerami yang di sudut-sudutnya menyeruak keluar penuh tusukan logam, jerami yang terbakar dalam video.

Kesan teror mencekat dan tiadanya harapan pada kehidupan petani pinggiran Surabaya, yaitu daerah Lakarsantri, yang penuh gejolak, sebagai lingkungan Jopram—daerah pertanian di pinggiran Surabaya. Hanya, pelbagai medium yang digunakan terkesan repetisi dari boneka jerami, baik pada lukisan, instalasi, maupun video art. Akibatnya, kepaduan antaridiom yang digunakan terasa tipis. Terlebih karya ini terlalu luas dalam pemanfaatan ruang, dengan cahaya yang kurang maksimal. Mungkin akan lain ketika penataan dan tempatnya berada di ruang terbuka serta ada performance art dari para petani sesungguhnya.

Di Galeri Merah Putih, Saiful Hadjar, yang dikenal dengan karya grafisnya, ikut berpameran lewat karya berjudul ”Ruang Tunggu”. Sementara sebelumnya karya Saiful melulu cukilan, kali ini iumemasukkan unsur digital printing. Tidak terbatas siluet yang tercipta dari garis putih dengan latar bidang gelap. Beberapa panel memasukkan warna merah, biru, dan ungu. Ini merupakan sesuatu yang berbeda, terlebih bila kila melihat cukilannya cenderung minimalis, tidak seriuh karya-karya sebelumnya. Ada 79 karya dalam ukuran variasi 20 x 30 sentimeter dan 35 x 40 sentimeter serta membentang membentuk peta Jawa Timur pada panel 7x2 meter.

Bisa dikatakan Saiful lebih tenang dalam menggarap persoalan. Barangkali dia mengangkat tema bahaya seks bebas. Tidak lagi muncul senapan, sepatu lars serdadu, dan rakyat tertindas. Torehan warna putih dalam karyanya menampilkan wujud kelamin perempuan dan laki-laki secara verbal, tanpa diliputi beban. Namun barik yang lebih sederhana dan persoalan yang berbeda tidak mengenyahkan situasi mencekam sebagai ciri khas Saiful.

Pada karya Agung Tato, Jopram. Keo Budi Harjanto, serta Saiful Hadjar, terhampar kegelisahan sosial yang nyata di wilayah Jawa Timur dan diperlukan aktualisasi dalam bentuk karya rupa yang tidak lazim. Bukan sekadar bergenit dengan media baru, melainkan berpijak pada persoalan dan rupanya persoalan itu tidak cukup diwadahi dalam bentuk dua dimensi. Sayang, dalam Jatim Biennale 2011, yang digelar hingga awal November, lukisan masih demikian dominan.***

Imam Muhtarom, (pengamat seni rupa, tinggal di Kota Surabaya)

Publikasi tulisan ini ada di Koran Tempo,Kamis,  27 Oktober 2011

0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate