Keenam Perupa itu Masih Percaya Manusia



Bob Sick terhuyung-huyung mendekati kanvas berukuran 3x1,5 m sambil membawa cat dan kuas buat mengecat tembok. Ia duduk lantas menggoreskan kuasnya secara spontan membentuk muka manusia. Muka tak beraturan. Justru yang menonjol gigi dan mata saja. Warna dasar hijau kini memiliki bentuk, walaupun dalam bentuk deformasi. Tak ada lanskap kecuali bentuk datar entah itu apa.
Sejumlah lukisan Bob Sick dalam ruang kelas di STKW Surabaya itu disulap menjadi suatu galeri. Namanya: Galeri Rakuti. Di dalam galeri ini karya-karya Bob berjajar tak beraturan, membentuk disharmoni, bahkan tak ada acuan konsep kuratorial. Ugo Untoro juga bersikap serupa. Di video pada hari pertama mereka membikin karya antara 1-4 November 2011, malah hanya melempar-lemparkan materi sejenis karet ke tembok. Bahan berwarna hijau itu ada yang menempel, sementara yang gagal menempel di tembok berjatuhan dan oleh pihak semacam kurator minta dibersihkan. Namun di sudut tembok lain, Ugo menggunakan bahan semen dilemparkan ke tembok seukuran 8x5 m di atas karya Toni. Karya itu berupa bercak-bercak semen tanpa keterangan judul.
Di tengah ruangan terdapat sepasang slompen kayu penuh paku dipasang terbalik, topeng kayu, objek besi diberi roda dari gerigi, mainan dari seng, dan patung kayu karya S. Teddy D. Dalam karya lukis, Teddy tidak memakai kanvas mahal untuk mencurahkan ekspresinya, melainkan triplek ukuran penuh dilaburi cat membentuk muka-muka manusia. Muka-muka tanpa kejelasan identitas kecuali hitam serupa siluet. Ugo sendiri tidak memajang lukisan barunya kecuali 4 lukisan ukuran kurang dari 1 meter bertanda tahun 1992-2003. Tidak ada keindahan kecuali bidang kanvas putih di sisinya dicat hitam bertajuk “Me and My Son” yang mengingatkan anak Ugo yang terlahir cacat secara mental. Kemudian “Corat Coret No 5”, “Kawan-kawan Revolusi after Sudjojono”, “Corner Series”. Bukan karya terbaik Ugo yang dipajang, memang, tapi karya yang menjelaskan proses Ugo sendiri dalam periode itu mengenai masalah yang diangkat dan bentuk yang berubah selalu. Tidak ada ketetapan yang hendak ia buat.
“Saya memang tidak terpaku pada satu kekhasan. Saya selalu ingin berubah, terutama semenjak periode 1998,” ujar Ugo. Sama dengan apa yang dinyatakan, ketiga perupa lain yang turut dalam pameran ini mengamini hal serupa. Cahyo Basuki “Yopi” bermain dengan mobil-mobilan dalam ukuran kecil dipajang di tembok memenuhi sisi bidang kotak berwarna hijau. Tohjaya Tono antara lain memajang karyanya diletakkan begitu saja di atas gantungan berupa goresan arang di atas lembaran kertas dalam “Seri Pohon”, kemudian Yustony Volunteero antara lain memajang beberapa lukisan ukuran kurang dari 1 meter mengenai manusia berkepala anjing, juga bekas besi kusam yang membentuk telepon berjudul “Tuhan dan Anjing”.
Pameran keenam perupa mapan Yogya jauh dari jenis komodifikasi, justru cenderung menggunakan konsep seni miskin (poor art). Dari segi bahan karya, tidak satu pun memanfaatkan bahan yang mahal kecuali triplek, besi bekas, cat tembok, semen, punggung meja, papan tulis, rangka mesin bekas. Tidak ada lampu khusus untuk tiap karya agar tampak efek tertentu yang ingin ditonjolkan dari karya, kecuali 3 lampu TL berpendar putih di langit-langit ruang kelas STKW Surabaya.
Memang semenjak awal Hari Prayitno, kurator, tidak menawarkan konsep tertentu untuk memberi batas dari pameran ini. Konsep ini ditemukan secara interaktif di antara keenam perupa bersama kurator. Mereka saling menanggapi usulan, ide-ide yang bermunculan semenjak mereka bersepakat untuk membikin pameran dan melakukan proses pembuatan sebagian karya di ruang kelas STKW. Konsekuensinya, tutur Hari, tidak ada ketetapan konsep kecuali ketetapan bahwa keenam perupa tersebut berupaya saling merespon satu sama lain. Eksperimentasi seperti ini sungguh jarang terjadi lantaran kurator maupun perupa tidak tahu apa yang akan terjadi pada pamerannya sampai hari H dibukanya pameran. Terlebih, perupa yang ikut adalah mereka yang aktivitasnya selalu terjadwal dan terkonsep lebih dulu lewat ide kuratorial. “Saya ingin sebuah pameran serupa pertunjukan musik. Antara satu karya dan karya yang lain memberi kelengkapan demi menciptakan situasi musikal,” tutur Ugo.
Hasilnya, bukan karya rupa yang selama ini beredar di galeri komersil yang tampak manis dan membuat orang ingin memiliki. Yang muncul, karya di luar kecenderungan umum, menyempal dari kelaziman, dan alternatif. Seni rupa memang tidak harus menampilkan figur, objek, ruang yang menyenangkan mata, tapi karya rupa yang mengajak kontemplasi, dan dari sana dikembalikan pada soal manusia itu sendiri.
Pameran yang entah kenapa bertajuk Fine Wine at 9, yang berlangsung 5-15 November 2011, kuat pesannya bahwa manusia menjadi perhatian utama. Manusia seakan tetap menjadi harapan walaupun direpresentasikan dalam bentuk deformasi pada keenam perupa dalam pameran ini. Manusia-manusia yang muncul sebagai bagian pergulatan perupanya dengan soal personalnya masing-masing. Sebagian kecil lainnya ada yang bicara buruh kebun tebu yang dikisahkan dalam laburan cat abu-abu di atas punggung meja yang ditata mau terjungkal.
Pameran ini menyarankan manusia dan seni sesungguhnya masih ada dan bisa dipertahankan di tengah berbagai komodifikasi sistematis yang dilakukan berbagai lembaga kesenian. Sudah seharusnya seni dikembalikan pada bagian dari cara memahami manusia dan bukannya sejajar dengan produk komersial dengan memperlakukan karya seni sebagai art invesment, kata Hari Prayitno. Semangat untuk mengembalikan pada kemurnian seni di tengah berbagai gempuran tersebut yang menjadi inti pameran ini.
Namun demikian, kita juga tidak bisa menduga bila di kemudian hari karya yang tidak sedap dipandang mata ini justru dicari kolektor. Sebab kapital selalu bisa memperlakukan apa saja, terutama seni rupa, menjadi barang komodifikasi sejauh barang itu dianggap berharga. Atau, sesuatu yang mulanya dianggap remeh temeh menjadi berharga ketika kapital mengakomodasinya menjadi sederet komoditas. ***

Penulis: Imam Muhtarom, pemerhati seni rupa.

Tulisan ini dipublikasi di Jawa Pos, Minggu, 20 November 2011
  



1 comments:

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate