Menguak Figur Bertopi di Candi Masa Majapahit

Judul: Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit; Pandangan baru     terhadap fungsi religus candi-candi periode Jawa Timur abad ke-14 dan ke-15
Penulis: Lidya Kieven
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia & École française d’Extréme-Orient, Desember 2014
Penerjemah: Arif Bagus Prasetyo
Tebal: xix + 450

Buku ini menjelaskan tentang makna figur bertopi di candi-candi di Jatim pada abad 14 dan 15. Awalnya, figur bertopi ini digunakan pada kalangan masyarakat kebanyakan kemudian kalangan bangsawan, dan kemudian figur Panji. Figur panji pada abad 14 dan 15 dimaksudkan sebagai perantara para peziarah atau kaum bangsawan dan raja sebagai sarana untuk menuju penyatuan dengan Ilahi. Konsep Panji ini merupakan konsep Tantra sebagai upaya penyatuan Wisnu dan Sakti. Dalam praktiknya Tantrisme dipraktikkan lewat hubungan seksual antara lelaki dan perempuan (suami-istri).

Di Jawa Timur masa Majapahit, khususnya menjelang keruntuhannya, banyak bermunculan candi baru di kawasan Gunung Penanggungan atau renovasi di candi-candi yang sudah ada. Pembangunan candi baru dan renovasi dengan penambahan pada bangunan candi yang sudah ada ditengarai lantaran maraknya konflik di pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit. Konflik ini terjadi lantaran persaingan kuasa di antara anggoata keluarga yang berbeda percabangannya. Penyebab lainnya berasal dari luar yakni semakin kuatnya pengaruh Islam di wilayah Majapahit.

Naiknya tensi konflik tersebut mendorong para bangsawan kerajaan atau raja sendiri untuk mendirikan bangunan sebagai tempat pemujaan sekaligus pengukuhan untuk mencari kesaktian dan penguatan legitimasi kekuasaanya. Legitimasi secara spiritual lazim dilakukan pada masa ini dengan cara mendekatkan diri kepada yang Ilahi melalui jalan ritual. Pada masa Majapahit ritual diyakini mampu memberikan dukungan legimitasi adalah jalan Tantra. Penyatuan dengan yang Ilahi lewat jalan Tantra muncul di dalam penggambaran tokoh Panji dalam pertemuan-perpisahan-pertemuan dengan Candrakirana. Relasi Panji dan Candrakirana dalam asmara ini tidak sekadar hubungan lelaki dan perempuan belaka.

 Lebih dari itu, hubungan kedua insan ini merupakan lambang dari penyatuan dua unsur yang akan mengantarkan manusia kepada tataran yang lebih tinggi, yaitu Sang Pencipta.
Figur Panji dalam relief candi di Jawa Timur fungsinya dalam jalan Tantra menjadi penghubung para peziarah untuk memasuki relief yang diambil dari mitologi India. Kisah Arjunawiwaha, Ramayana, dan Kresnayana yang ada di Candi Penataran berada di pelataran ketiga atau pelataran terakhir. Di pelataran ini terdapat relief Ramayana yang berkisah penyelamatan Sinta oleh Hanuman dari cengkeraman Dursasana. Juga terdapat relief kisah Arjunawiwaha tentang Arjuna yang tengah bertapa mendapat goda dari bidadari. Arjuna bertapa dalam rangka menjadi ksatria andal untuk menyelamatkan negara. Sementara itu, figur Panji ada di pelataran tingkat pertama atau pelataran depan.

Di Candi Surowono, Pare, figur Panji ada di bagian depan candi. Candi Mirigambar, Tulungagung, figur Panji ada di relief bagian depan di pintu masuk. Sementara di Candi Yudha, Candi Selokelir, dan Candi Kendalisodo yang berada di kompleks percandian Gunung Penangggungan figur Panji terletak di relief bagian muka atau depan dari banggunan candi.  Berbeda dengan relief di Candi Penataran yang memiliki tiga tingkatan pelataran, di candi-candi  yang lebih kecil ini merupakan ringkasan dari konsep kemanunggalan yang dijabarkan secara arsitektural di Candi Penataran.
Dalam menjelaskan alur ritual di Candi Penataran, Kieven menggunakan sumber utamanya relief yang ada di candi,  kemudian sumber pendukungnya dengan membaca Desawarnana, informasi dari Bujangga Manik, Tamtu Panggelaran, dan Sutasoma.

Panji disebut Lydia sebagai kisah pasca-mitologis yang khas dari candi-candi di Jawa Timur. Panji berasal dari kisah Raden Panji dan Candrakirana dari Kerajaan Daha dan Kerajaan Kadiri. Dalam pelbagai cerita panji dijodohkan dengan Candrakirana. Hanya saja, sebelum bertemu dan menikah keduanya menghadapi pelbagai cobaan.

Kisah Panji yang diadaptasi menjadi figur bertopi dalam relief-relief candi di Jawa Timur tidak ditemukan pada relief candi-candi periode Jawa Tengah. Relief di candi-candi di Jawa Tengah semuanya merepresentasikan mitologi India. Kisah-kisah yang tertera pada relief di Jawa Tengah bisa dikatakan taat dengan apa yang dibawa dari India. Berbeda dengan relief candi di Jawa Timur. Selain tetap mempertahankan kisah Arjunawiwaha, Ramayana, dan Kresnayana dalam bentuk relief, sebagian besar candi di Jawa Timur terdapat figur bertopi dalam reliefnya. Menurut Lydia Kieven figur bertopi tersebut tidak lain adalah Panji yang merupakan sosok hero dari kisah lokal di Jawa Timur.

Di Jawa Timur kepercayaan spiritual dari India berubah seiring dengan perjumpaan dengan yang lokal. Figur yang menjadi pujaan tidak hanya para Dewa, tetapi sosok lokal seperti panji dan juga tokoh mitologis dari kalangan ksatria. Sosok lokal ini ada pada Panji yang diambil dari kisah lokal yang dalam definisi Kieven disebut dengan sosok pasca-mitologis. Dalam keyakinan pada masa Majapahit ini  sosok Hanuman dan Bima yang berasal dari mitologi India dipuja layaknya para dewa. Hanuman sebagai sosok pahlawan dalam kisah Ramayana menjadi sarana penyelamatan yang diagungkan sebagaimana tampak di Candi Penataran. Demikian juga Bima yang berhasil mendapatkan anugerah setelah melakukan penyelaman dari dasar lautan. Hanuman dan Bima tidak seutuhnya dianggap dewa dalam pemujaan, tetapi hampir sebagai dewa atau setengah dewa.
Kreativitas lokal yang kerap disebut sebagai sinkretisme telah berjalan semenjak dulu di Jawa, khususnya Jawa Timur. Mereka tidak memasukkan unsur lokal dalam pola keyakinan Hindu-Budha pada saat itu tanpa harus menegasikan keyakinan lain. Ada upaya untuk tetap menghormati keyakinana lokal tanpa harus mengorbankan keyakinan yang datang dari India.

Semangat sinkretisme ini tampaknya telah ada jauh sebelum kedatangan Hindu dan Budha datang ke tanah Jawa. Kieven meyakini tradisi megalitik yang ada di Jawa menjadi dasar praktik sinkretisme pada masa akhir Majapahit tersebut. Tidak heran dalam perkembangan kemudian sinkretisme sebagai akar lokal tetap bekerja pada masa masuknya Islam di abad 15. Islam sebagai keyakinan diterima tetapi dengan canggih pula Islam diadaptasi dengan keyakinan yang ribuan tahun telah berkembang di Jawa, khususnya Jawa Timur.

Dalam buku ini dugaan maraknya pembangunan candi dan renovasi masa Majapahit akhir tidak didukung data sejarah yang kuat. Kieven lebih banyak menduga-duga adanya konflik di pusat kerajaan Majapahit. Upaya jalan spiritual dengan mengadakan pembangunan dan renovasi semacam jalan lain agar kekuasaan yang raja tidak lepas. Kekuasaan ini dibangun lewat jalan simbolik berupa ritual dan pembangunan di candi-candi yang merupakan bagian dari kekuasaan kerajaan. Dugaan itu tidak diperkuat oleh data di luar data relief candi yang mengatakan adanya konflik di ibukota Kerajaan Majapahit. Hal mana pelaksanaan ritual di candi sekaligus maraknya pembangunan candi di  area Gunung Penanggungan bertujuan untuk penguatan legitimasi kekuasaan. Tentu saja hal ini di luar tujuan penelitian Kieven. Untuk mengetahui situasi krisis Majapahit, terutama setelah wafatnya Hayamwuruk, perlu membaca buku penelitian yang khusus tersendiri.***

Imam Muhtarom, kurator tetap Borobudur Writer & Cultural Festival.


0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate