MENANTANG MAL DENGAN SENI RUPA

oleh Imam Muhtarom*)


Ruang kosong dari bagian mal itu diubah dengan menutup dindingnya dengan kain menjuntai putih. Dinding yang mulanya hanya bata semen semata kini menjadi elok. Ruang kosong itu kini dijadikan ruang pamer karya seni dari 5 seniman. Dari balik kaca karya dominan intalasi itu seakan hendak menantang keberadaan konter-konter pakaian, koper, kafe kopi di sekitarnya. Keberadaannya menonjol dan memberi arti yang penting di tengah ruang artifisial yang dimaksudkan oleh konseptor mal.
Bagi saya, sebuah pameran seni rupa di mal selalu menantang untuk dipahami sebagai salah satu model konfrontasi seni rupa hari ini. Di antara benda-benda komersil yang memenuhi etalase dengan gaya arsitekur longgar dan terpaan udara dingin buatan, seni diposisikan untuk berupaya dalam dirinya agar bertaruh dengan benda-benda komersil. Tata letak dalam sebuah mal tidak semata-mata kenyamanan, tetapi paduan antara kenyamanan dan kemungkinan untuk menerbitkan dan  mendorong orang untuk membeli, apa pun yang dibeli.
Karena itu, ruang menjadi taruhan yang penting bagi mal. Tata letak, posisi pengunjung, dan alur jalan pengunjung demikian diperhatikan. Tata lampu, lokasi lift, toilet ditata untuk menerbitkan pengunjung bahwa “ini semua dibuat untuk kamu dan sebisanya inilah sejatinya rumahmu. Sementara rumah atau apartemenmu yang kau cicil itu hanya untuk numpang tidur.”
Yani Mariani; Poems of the silince; 350x350x430cm; media mixed, recycle rope, wood, white sand,

Semangat demikian yang tampaknya menguat dalam Martell Cognag Contemporary Art Exhibition di Kuningan City Mal, Jakarta Selatan. Pameran bertajuk “Challenging The Boundaries” yang berlangsung 3-9 Februari 2014 menghadirkan 5 seniman papan atas Indonesia dengan beragam latar. Kelima seniman itu Yani Mariani, Nia Gautama, Lenny Ratnasari, Edwin Raharjo, dan Yola Yulfianti. Seniman-seniman yang diundang menghadirkan karya instalasi, performace art, kinetic art, video sculpture yang menempati lantai utama di depan pintu masuk utama mal tersebut.
Apa yang dilakukan Bambang Asrini Widjanarko selaku kurator memang tepat ketika memajang karya di luar karya dua dimensi. Ini semata dapat menghindari ekspresi datar yang telah menguasai mal semenjak pengunjung masuk ke dalam mal. Dalam setiap konter pandangan mata kita pasti tertumbuk pada beragam produk digital print yang tak lelah menyala ke mata dengan diam-diam atau terang-terangan menjual barang barunya dan menurut mereka seluruhnya bagus.
Dalam pameran ini karya Yani Mariani boleh dibilang yang menghadirkan situasi paling puitis dalam mal yang tampak sebagai rumah dalam pasar yang direkayasa itu. Karya berjudul Poem of the Silence menyampaikan karakter puitis dari karya benda sehari-hari. Karya itu bagaikan hujan yang merdu, konstan, dan membuat hati kita rawan.  Karya berukuran 350x350x430 cm ini persis berada di tengah ruang pameran yang tidak terlalu luas. Tali-tali menggantung di ketinggian 4,5 meter  yang ujung atas dan bawahnya dikaitkan dan ditata rapi jali. Sebagian tali dari atas lebih dari separuhnya terdiri dari tali katun kemudian seperempatnya disambung dengan tali kawat. Di bawah tertabur pasir pantai warna putih.
Tidak ada suara atau cahaya dalam karya Yani ini. Karya itu memang tidak membutuhkan apapun pendukung lain kecuali selera estetik yang teruji dari Yani. Karya ini benar-benar menjadi sihir yang lain di tengah mal yang juga berjuang menyihir pengunjung untuk masuk pesona artifisial dari benda-benda komersil.
Sihir karya ini berupa suasana terdiam karena puitik hujan yang pernah mempesona kita dan sekarang suasana yang pernah entah kita rasakan itu diraih dan dihadirkan ulang oleh Yani Mariani. Karya Yani bagi saya cukup berhasil dan tepat Bambang mengundangnya dalam pameran ini.
Cara serupa juga dipakai oleh Nia Gautama dengan karya berjudul It’s About Process and Passion. Nia Gautama, seniman berbasis keramik otodidak, menggantung puluhan keramik berukuran satu kepalan tangan yang ditata rapi jali. Keramik warna tanah lempung abu-abu tua ini memakai bentuk bundar dan persegi seperti dompet menggembung. Objek keramik itu berlobang di badannya dan dari dalam semua keramik itu menjuntai bulir padi lengkap dengan tangkainya. Ini benar-benar mengingatkan kita pada sesuatu yang tradisional dan agraris di tengah benda-benda lux dan glamour di mal.
Nia bukan yang pertama dalam membuat karya instalasi yang dominan dengan objek menggantung. Pada Jakarta Biennalle 2011, seniman asal Bali ini bahkan menghadirkan karya yang seutuhnya tradisi dalam sebuah kamar sehingga karya itu seakan membentuk secara kuat mengenai apa yang disebut atmosfer dari tradisi.
Karya ini mencari arah lain di antara superioritas dunia mal dengan segala isi perutnya. Ada dunia lain yang teramat berharga yang telah kita lupakan asal-muasalnya, yaitu tanah dan padi dan pasir sebagai objek yang tidak artifisial lantaran ia hadir bersama alam. Objek-objek alam itu diambil Nia seakan memberitahu kita tentang orientasi yang terhadap objek artifisial di mal dan di dunia kita sehari-hari telah melupakan separuh bahkan hampir semuanya dari keberadaan alamiah manusia dan alamnya.
Karya Nia Gautama maupun karya Yani Mariani memberi jalan lain berupa ruang yang menjadi hakikat karyanya, yaitu instalasi yang mencipta ruang. Ruang yang muncul dan instalasi berbeda seutuhnya dalam hal apresiasinya apabila kita membandingkannya dengan lukisan. Lukisan tidak mencipta ruang sehingga tidak membawa keseluruhan badan untuk mengalaminya. Karya instalasi tidak  lain sebuah karya yang mengharapkan kehadiran badan dan dunianya dari si apresiator untuk masuk ke dalamnya.
Nia Gautama, It's About Process and Passion; Rice, paddy husk, ceramic, rice grain, Martell's empty cognag

Sementara itu, karya Lenny Ratnasari menghadirkan karya 4 manequin yang ditutup semua oleh warna hitam dan kuning dari anasir warna police line. Karya berjudul Iceberg 2 of 10 Series (Demarcation) elok dan memberi arti yang keseharian untuk dipikirkan ulang dalam kesadaran kita apa itu garis polisi yang terasa teror bila kita hanya melihatnya, bahkan sebelum terlibat di dalamnya.
Kali ini Edwin Raharjo yang kita kenal sebagai pemilik Edwin’s Gallery ikut dalam pameran ini dengan proyek karyanya yang dikenal dengan kinetic art.  Karya Edwin berjudul Light Rythm berupa kayu setinggu 185 cm berdiri lekat dengan pedestal permanen. Karya Edwin berupa sayap di sisi kiri 10 dan sisi kanan 10. karya ini dilengkapi sensor gerak yang mana, apabila kita mendekat karya ini kan bergerak. Karya dengan kualitas kayu dan logam bagus ini memang dibutuhkan ketelitian sehingga menimbulkan gerak yang ritmis.  Karya Edwin satunya yang berjudul Floating Fleet #1 (3 seri) menggunakan pola serupa, hanya saja yang ditirukan memang lebih dekat dengan bentuk dan gerak kupu-kupu.
Karya pungkasan dari Yola Yulfianti menghadirkan karya performance art dan dipadukan dengan video scuplture. Karya berjudul Story of Kampoong Johar menghadirkan 3 performer  yang merespon kotak yang satu sisinya terbuka. Kotak setinggi 2 meter, lebar 50 cm dan tebal 50 cm menjadi pusat respon dari 3 performer dan video yang ditembakkan ke kotak itu.
Ceritanya, karya kota ini mengenai kehidupan Kampung Johar yang padat di tengah metropolitan Jakarta. Persoalan khas urban yang nyaris tenggelam dengan cerita megapolitan Jakarta dihadirkan koreografer sekaligus pembuat film tari, Yola Yulfianti.
Pameran ini menjadi istimewa tidak saja karena senimannya membuat karya yang berbeda dengan studinya di akademis maupun dasar seni rupa yang biasa ia ciptakan sebagaimana dimaksudkan pameran ini. Menurut saya yang juga perlu diapresiasi adalah konsep ruang yang ditimbulkan karya seni yang memiliki orientasi lain dan bahkan bisa diartikan menantang ruang dalam mal.***


*) Imam Muhtarom, pengamat seni rupa dan mahasiswa pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Terbit di Harian Jawa Pos, Minggu, 9 Februari 2014.


2 comments:

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate