Jiwa Manusia Kota dalam Cerpen


oleh Imam Muhtarom*)

Pelajaran yang berharga dari membaca cerpen maupun novel karya Budi Darma kita disadarkan bahwa manusia itu pada hakikatnya berjiwa. Jiwa inilah yang mengatasi dunia material tempat ia berada. Dalam khasanah sastra Indonesia posisi karya-karya Budi Darma sudah jelas letak dan sumbangannya. Juga semakin jelas perbedaannya apabila kita membandingkannya dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Semua karya Pramoedya memberi pelajaran pada kita bahwa manusia pada dasarnya pertarungan tak selesei antara kelas penguasa dengan kelas yang dikuasai. Jika pada karya-karya Pramoedya berpijak pada material, maka bisa dikatakan karya-karya Budi Darma berpijak pada yang immaterial, jiwa.

Namun demikian, tokoh-tokoh dalam karya Budi Darma, khususnya dalam kumpulan Orang-Orang Bloomington (selanjutnya disingkat OOB), sekalipun dengan jelas menunjukkan sosok manusia lewat tokoh-tokohnya yang memiliki jiwa, memiliki kepribadian, bukan berarti mereka berada di luar lingkungannya. Yang terjadi justru tokoh-tokoh dalam OOB hidup di tengah-tengah kota yang pada dasarnya adalah susunan material. Bukan saja material tersebut berupa sekian gedung, apartemen, jalan, mobil, uang, tetapi kota tak lain sebuah relasi kompleks yang sifatnya determinis terhadap penghuninya.

Pertama-tama kota dengan strukturnya mengikat dan menetapkan gerak badan, selanjutnya kota akan mengungkung pikiran, imajinasi, dan harapan para penghuninya. Dengan perkataan lain, kota sebagai struktur kompleks yang memungkinkan kota ada tak lain materialisasi segenap aspek kehidupan. Persoalan serius yang mengidap kota di mana pun di dunia ini semacam kriminal, bunuh diri, pembantaian, salit jiwa, demonstrasi massa, dan contoh-contoh kekerasan lain bisa dijelaskan lewat struktur yang mematerialisasi ini. Karena itu, dalam konteks penulisan sastra sebagaimana pernah dilakukan Walter Benjamin saat menulis kritiknya atas puisi-puisi Baudelaire, ia menggunakan determinasi ekonomi Karl Marx yang kemudian dikecam justru oleh koleganya sendiri, Adorno.

Tulisan ini tidak hendak membawa ke pembahasan cara Benjamin, melainkan sebaliknya, bagaimana OOB keluar dari jebakan determinasi struktur yang mematerialisasi ini dan justru secara jelas menunjukkan tokoh-tokoh OOB bukan budak materi. Sekalipun tokoh-tokoh dalam OOB adalah tokoh-tokoh yang terikat struktur kota yang mematerialisasi ini, tetapi pada saat yang sama, istimewanya, berhasil menunjukkan bahwa tokoh-tokoh tersebut berjiwa. Tokoh-tokoh yang bebas dari materi dan memiliki kepribadian. Sekalipun tokoh-tokoh tersebut terjatuh-jatuh oleh sekian masalah di tengah kungkungan kota, mereka tetap berusaha berdiri untuk tidak takluk dalam cengkaman kota.

Di tengah struktur kota

Keberhasilan menunjukkan adanya jiwa di tengah determinasi struktur kota yang mematerialisasi ini, bukan dikarenakan tokoh-tokohnya memiliki latar belakang kelas sosial menengah ke atas sehingga memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi oleh sebab waktunya tidak habis untuk bertahan hidup secara fisik. Justru cerpen-cerpen dalam OOB ini tak lain argumentasi berupa cerita bahwa manusia (di) kota bukanlah sejenis ternak yang selesei atau tidak selesai lantaran sandang, pangan, dan papan. Lebih dari itu, manusia itu berjiwa. Terseok-seok oleh berbagai kekurangan fisik, ekonomi, dan sosial sebagaimana dialami tokoh Joshua Karabish dalam cerpen “Joshua Karabish”, ia tetaplah sosok manusia yang berjiwa, memiliki pikiran, dan yang utama, memiliki nurani.

Secara cukup meyakinkan, tokoh Joshua yang dikisahkan nyaris tidak memiliki kelebihan kecuali selalu kekurangan uang, minder, tak punya teman, mengidap penyakit kronis yang membawanya ke alam baka, justru memiliki nurani dengan sikapnya yang rendah hati, tahu diri, dan tabah. Ia tidak mengatakan ‘penyair‘™ sekalipun ia banyak sekali menulis puisi. Ia hanya mengatakan lewat tokoh “saya” ia hanyalah sosok yang tidak memiliki kepribadian sebagai syarat mutlak seseorang menjadi penyair. Ia mengaku orang bodoh yang kebetulan suka menulis puisi. Pandangan ideal tentang penyair dan karyanya yang dipahaminya dengan baik ini tidak membuatnya jumawa kepada siapa pun. Ia hanya menulis tanpa pretensi apa-apa. Justru tokoh “saya” dengan culas mengganti nama dirinya atas puisi-puisinya dalam lomba penulisan puisi ketika Joshua sudah mati. Alhasil, puisi karya Joshua menang. Pembaca dapat menghayatinya bahwa dari sosok invalid dan menjijikkan ini justru bisa membuat terharu. Ada mutiara dalam sosok yang bahkan bagi ibu dan kakaknya sendiri dianggap manusia tidak berguna ini.

Pararel dengan tokoh Joshua Karabish, adalah tokoh lelaki tua tanpa nama dalam cerpen “Lelaki Tua Tanpa Nama”. Dalam cerpen ini tokoh Lelaki Tua tak lain orang yang dianggap tidak waras dan membahayakan orang lain. Dianggap tidak waras karena tokoh ini sering mengacung-acungkan tangannya seakan ia tengah menggenggam pistol di tengah jalan. Ini sering menjadi tontonan orang akibat perilaku tak wajrnya ini. Beberapa orang yang melihatnya dibuat senang, beberapa yang mengutuknya. Ia juga dicurigai oleh tokoh di sekelilingnya di mana ia menyewa kamar bahwa dia sudah sejak lama telah menyimpan senjata, terutama oleh tokoh Ny. Nolan. Tokoh Lelaki Tua ini yang menurut salah seorang tokoh pernah dikirim dalam perang Vietnam telah kehilangan kedua anaknya dan istrinya. Ia hidup sendirian dan sering menceracau dengan keinginannya tinggal di gedung tinggi yang dilengkapi senjata mitraliur.

Dari keterangan tersebut tokoh Lelaki Tua tak lain tokoh terasing bukan saja traumatik masa lampau dan keluarganya, tetapi juga oleh lingkungan sosial pada masa kininya. Ia hidup seorang diri dan orang-orang di lingkungannya tidak memiliki empati kecuali tokoh “saya”. Mereka justru menghindarinya dengan alasan privasi sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh Ny. Nolan, Ny. Casper, dan Ny. Macmilan. Akibat privasi atau sebenarnya tak mau tahu urusan orang lain, ketika tokoh Lelaki Tua mengacung-acungkan senapannya ke arah Ny Casper yang berlari ketakutan, tindakan yang diambil tokoh Ny. Nolan adalah mengambil senjata laras panjang dan menembak tokoh Lelaki Tua. Tokoh Lelaki Tua mati. Ketika diketahui bahwa senjata yang diacung-acungkan Lelaki Tua tidak berisi peluru, Ny Nolan tetap yakin Lelaki Tua itu pasti memiliki peluru. Ny. Nolan bersikeras dengan pendapatnya, bahkan dalam kesaksiannya di hadapan polisi. Apa yang mengharukan dari cerita ini adalah untuk menggedor kesadaran yang telah rutin manusia kota, terutama di Amerika Serikat, diperlukan seorang korban. Posisi korban dari tokoh Lelaki Tua ini sesungguhnya menjadi pemicu dalam melahirkan kepekaan terhadap sesama manusia. Justru pada diri manusia semacam Lelaki Tua inilah seseorang akan disadarkan bahwa manusia itu memiliki jiwa yang luhur. Pesannya jelas, individualisme ekstrem manusia kota mengandung tidak saja buruk, tapi juga membahayakan.

Penghayatan penulis

Kelima cerpen lain dalam OOB, antara lain “Ny. Elberhart”, “Yourick”, “Charlese Lebourne”, “Orez”, dan “Keluarga M” juga upaya menunjukkan bahwa orang-orang malang dalam struktur kota yang mematerialisasi ini tidak harus identik dengan orang yang merugikan. Manusia, khususnya orang kalah di sebuah kota, tetap memiliki jiwa seandainya orang mau menghayatinya. Di antara kelima cerpen tersebut, cerpen “Keluarga M” bagaimana posisi keluarga yang terpinggirkan secara ekonomi maupun sosial sangat terasa. Menariknya, Keluarga M yang berkali-kali dihina oleh tokoh “saya” ketika dalam keadaan sengsara tidak mau tunduk oleh kedengkian tokoh “saya”. Ketika mereka menolak segala bantuan tokoh “saya” bukan dengan alasan dendam, tetapi menunjukkan keinginan untuk berdiri atas usahanya sendiri. Bantuan pada beberapa hal sebagai ekspresi kerapuhan jiwa. Ketika kerapuhan menerpa seseorang maka jiwa itu akan tenggelam.

Pelajaran yang berharga dari cerpen OOB ini bukan semata kemampuannya memperlihatkan jiwa pada diri manusia (jiwa kethok) pada diri orang-orang kalah di lingkungan kota, tetapi masalah bagaimana tema tersebut diwujudkan dalam cerita├»‚§. Masalah cara pewujudan lewat cerita ini tentu saja tidak sekadar terbatas pada kemampuan cerita itu mengorganisasikan berbagai elemen strukturalnya. Lebih dari itu, penghayatan yang kuat dan mendalam dari penulisnya atas subjek yang ditulisnya adalah faktor yang tak bisa diabaikan. Ini sepadan dengan Pramoedya Ananta Toer sekali pun dengan pijkan yang berbalikan dengan subjek yang ditulis Budi Darma. Namun, keduanya sama-sama ingin mengatakan bahwa manusia itu mulia, agung, dan mengagumkan.

*) Lahir 12 Mei 1977. Lulus dari fakultas sastra Unair tahun 2001. Menulis fiksi, resensi buku, artikel sastra, dan karya terjemahan. Berbagai tulisannya tersebar di pelbagai media antara lain Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Kalam, Jurnal Anarki, Majalah Bahana (Brunei), Kompas, Jurnal Nasional, Media Indonesia, The Jakarta Post, Koran Tempo, Suara Karya, Jawa Pos, Sinar Harapan, Republika, Surabaya Post, Surya, Surabaya News, BUSOS, Jawa Pos, Suara Merdeka, Bali Post, Lampung Pos, Riau Pos, Karya Dharma, Memorandum.

Jurnal Nasional, 19 Maret 2010

0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate