Teater dan Naskah Asing

oleh Imam Muhtarom

Realisme dalam teater masih diperlukan. Bukan karena pentas teater dengan naskah realisme sering tidak menawarkan kesegaran lagi, tetapi karena realisme dapat menjadi cara yang memadai untuk menjadi cermin dari situasi sosial di Indonesia saat ini. Realisme yang merepresentasikan kenyataan di luar teks ke dalam teks memungkinkan pengolahan yang tak henti-hentinya pada kalangan teater sendiri, juga mengajak penonton bahwa kenyataan sekarang ini telah banyak mendapat manipulasi dari teknik visualisasi elektronik. Kenyataan sekarang ini bukan sesuatu yang bisa dialami dan dihayati secara langsung. Karena itu, Jacques Derrida sendiri dalam Specters of Marx masih perlu memanggil kenyataan yang diidealkan Karl Marx. Barangkali ini yang menjadi alasan kuat kenapa Teter Gapus Surabaya sekarang menggarap naskah realisme yang sebelumnya banyak menggarap naskah absurd.
Dalam pertunjukan Perjalanan Panjang oleh Teater Gapus mengangkat kehidupan bar dan pelacuran di pinggiran Surabaya, Tanjung Perak. Dikisahkan Tokoh Mak Sun, si pelacur, menyusun muslihat untuk mengambil bar milik Marjono. Marjono adalah orang yang menjanjikan Mak Sun pekerjaan layak di Surabaya. Alih-alih mendapatkan pekerjaan layak, Mak Sun justru dijerumuskan di dunia pelacuran oleh Marjono. Berkat Mak Sun, akhirnya Marjono bisa memiliki bar. Saat Mak Sun mendengar ada awak kapal Amindra yang akan berlayar ke Argentina membutuhkan budak, Mak Sun punya rencana. Ia ingin mengambilalih bar sekaligus membuang Marjono.
Produksi ke-81 Teater Gapus dari naskah yang diadaptasi dari Long Voyage Home (1917) karya Eugene O’neill memiliki argumentasinya sendiri ketika meletakkan tokoh Mak Sun sebagai peran utama dan bukan tokoh Nick seperti di naskah O’neill. Juga, tidak menjadikan Kuntet sebagai korban kelicikan Nick, melainkan justru Marjono sebagai pemilik Bar. Perbedaan ini menarik sebagai langkah pengadaptasian dengan meletakkan sosok Mak Sun dengan motif balas dendam peribadinya kepada Marjono. Motif ini terbilang jamak diketahui publik khususnya di Surabaya berkait bagaimana rekrutmen pelacur-pelacur yang diambil dari berbagai pelosok di Jawa Timur. Gadis-gadis lugu dari pelosok Jawa Timur diiming-iming pekerjaan layak di Surabaya, dan begitu sampai di Surabaya dijual ke mucikari.
Berbeda dengan naskah O’neill dengan tokoh Nick yang berbuat licik lebih dikarenakan motif ekonomi. Ini mengingatkan betapa kerasnya waktu O’neill menuliskan naskah kapitalisme Barat masih kasar. Semua diperjual-belikan, tak terkecuali manusia. Sementara naskah Perjalanan Panjang  motif Mak Sun menjebak Marjono semata bukan ekonomi, tetapi lebih karena balas dendamnya setelah ditipu mentah-mentah oleh Marjono. Ini jelas sekali ketika Mak Sun berdialog dengan Kunthet. Ia merasa hampa dan sangat membenci Marjono. Mak Sun membayangkan kehidupan lain yang lebih baik seandainya ia tidak ditipu Marjono.
Langkah pengadaptasian ini menyarankan kompleksitas negara-negara dunia ketiga. Persoalannya bukan saja pada kemiskinan dan kebodohan sebagaimana klaim Barat, tetapi kerumitan pautan antara tata sosial-kultural dan ekonomi dengan cara yang sulit dibayangkan oleh orang Barat. Motif tokoh Mak Sun untuk membalas dendam perbuatan Marjono, tentu memiliki akar yang khas di Jawa Timur khususnya Surabaya dengan motif Nick dalam naskah O’neill.
Di naskah O’neill gambaran kelas bawah di bar tampak brutal dengan menggunakan bahasa slang, penulisannnya jauh sekali dari bahasa Inggris British sekalipun mereka berada di London. Sebuah tipe sosial yang khas dari sudut pandang kelas sosial dalam buku-buku teori sosial ilmuwan Barat, tetapi kategori ini menjadi berbeda bila menonton Perjalanan Panjang sekalipun keduanya sama-sama mengangkat kelas sosial bawah. Sisi murahan dan norak yang khas terlihat jelas dalam kostum, gestur tubuh, dan cara Marjono dan Mak Sun memperlakukan bahasa Indonesia untuk dirinya sendiri.
Pengadaptasian ini menarik lantaran Kharisma L.J. selaku pengadaptasi sekaligus sutradara ingin menerjemahkan situasi keterasingan pada naskah maupun pertunjukan teaternya dengan menempatkan pinggiran utara kota Surabaya sebagai latarnya. Keterasingan yang diakibatkan perjalanan panjang di lautan oleh tiga awak kapal Kunthet, Kriwil, dan Kusni coba dipadukan dengan keterasingan secara ekonomi yang dialami Marjono dan Mak Sun.
Keterasingan sosial dan ekonomi ini memisahkan semua tokoh dari kehidupan sosial yang tentram dengan interaksi yang cukup intens di antara anggota-anggota sosialnya. Kebutuhan sosial-kultural lewat interaksi yang cenderung harmonis bagi anggotanya tidak mereka peroleh. Mereka berada dalam situasi terasing, sepi, dan tegang oleh ancaman laut maupun kemiskinan. Bila kemudian pelacur dan minuman keras oleh ketiga pelaut, uang oleh Marjono, dan membuang Marjono oleh Mak Sun,  maka ini bisa dilihat sebagai kompensasi sosial yang tidak pernah mereka dapat.
Dalam Long Voyage Home tokoh-tokoh berasal dari berbagai negara, sementara tokoh-tokoh dalam Perjalanan Panjang berasal dari satu propinsi, Jawa Timur. Konsekuensinya, terdapat reduksi yang tak bisa dihindari atas kompleksitas ekstrem Long Voyage Home di Perjalanan Panjang. Jika dalam Perjalanan Panjang tokoh-tokohnya memiliki memori kultural yang sama, maka Long Voyage Home sama sekali tidak. Ini kenapa asumsi-asumsi yang mesti dibuat oleh sutradara sangat penting sebelum mementaskan naskah yang dipilihnya.

Kode Sosial Surabaya

Kontekstulisasi kesurabayaan sebagai latar sosial maupun fisik masa kininya akhirnya menjadi penting. Namun demikian, sulit mendapatkan kelokalan dari panggung. Tampaknya ini sebuah kesengajaan untuk tidak memberikan warna lokal Surabaya kecuali nama Bar “Moro Kenceng” (bahasa Jawa: langsung tegang). Properti meja bar dan kursi tamu nyaris menjadi gambaran umum bar di mana pun. Jalan keluarnya, dialog antartokoh sangat mendapat penekanan, khususnya antara Marjono dan Mak Sun. Sekali pun berbicara dengan bahasa Indonesia yang lancar, dialog mereka sering keluar kata-kata makian jorok khas Surabaya, aksen lokal, serta nada yang tinggi. Terutama pada tokoh Mak Sun,  muncul representasi yang kuat dari model masyarakat Surabaya, baik secara gestur tubuh maupun penguasaan bahasanya. Gestur Mak Sun seperti ingin mengatakan keterbukaan, situasi egaliter. Ia tidak terbebani oleh berbagai hal sebagaimana yang jelas dalam tokoh Marjono.
Marjono diliputi keraguan, kegamangan, yang sulit mengambil keputusan di saat-saat yang kritis. Mak Sun memang satu cara yang paling tepat untuk memasukkan kode-kode sosial-kultural Surabaya ke atas panggung. Sekali pun Surabaya bagian dari budaya Jawa yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari, terdapat perbedaan yang jelas dari bahasa Jawa yang digunakan masyarakat Solo atau Yogyakarta. Di Surabaya tidak terdapat strata yang pasti dalam pemakaian bahasa.
Kalangan bawah maupun atas sama-sama menggunakan bahasa yang sama dalam berkomunikasi. Situasi egaliter ini semakin mendapat penguatan dengan kehidupan di bar yang hanya diukur dari seberapa besar uang yang dibawa sang tamu. Bila tamu sepi dan sedikit membawa uang, maka berhentilah kehidupan di bar. Pertemuan antara egaliter dan hukum ekonomi ini, memberi aksentuasi yang kental pada pentas, khususnya pada bagaimana sistem sosial terbentuk dan bekerja di bar.
Sayang sekali, unsur dramatis secara teks ini tidak mendapat penguatan yang berarti dalam pencahayaan panggung. Dalam bar cahaya terang dengan sorotan konstan ke aktor menjadi sesuatu yang aneh. Bar selalu disukai dan semakin menarik pengunjung ketika cahayanya berwarna-warni, tidak fokus ke satu hal, dan mengundang birahi. Suasana yang sudah terbangun lewat adegan sesungguhnya semakin maksimal apabila pencahayaan diletakkan sebagai yang tak terpisahkan. Namun demikian, pentas Teater Gapus Surabaya di Surabaya, Bandung, dan Solo pada akhir 2008 layak mendapat apresiasi sebab realisme dalam teater masih diperlukan dan tetap bisa dinikmati.

Imam Muhtarom, anggota Forum Studi dan Seni Luar Pagar (FS3LP), Surabaya.

Surabaya Post, Sabtu, 18 April 2009

0 comments:

Post a Comment

 

Buku Saya


Created with flickr slideshow.

Pemilik Blog

Translate